Lintasjejaring.com, Bengalon – Aktivitas truk hauling di Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur kembali memakan korban luka kecelakaan lalu lintas (lakalantas) pada Selasa (27/01/2026) kemarin. Seorang perempuan paruh baya yang sehari-hari bekerja sebagai pengantar jemput anak sekolah, mengalami luka robek dan bocor di bagian kepala, setelah ditabrak truk hauling di jalur kampung, tepat di depan gang masuk sekolah. Sabtu, (31/01/2026).
Peristiwa itu terjadi di simpangan dekat gapura putih Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur. Lokasi tersebut berada di jalur lurus permukiman warga, sementara truk hauling berbelok ke kiri menuju arah pabrik semen.
Seorang warga sekitar Desa Sekerat yang turut menyesalkan kejadian yang merugikan masyarakat tersebut menjelaskan kepada awak media, terkait dengan kronologi kejadian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya berada di lokasi dan sudah menanyakan langsung bagaimana awal kejadiannya. Korban ini ibu-ibu, pekerjaannya antar jemput anak sekolah pakai motor,” ujar seorang saksi mata warga setempat yang juga melakukan klarifikasi kronologi kejadian.
Akibat benturan keras, korban terlempar dan mengalami luka robek di bagian kepala hingga harus dijahit.
“Benturannya di kepala. Kepalanya robek sampai bocor dan harus dijahit,” jelasnya.
Saksi menyebutkan, pasca kejadian tidak ada pihak perusahaan maupun pemilik truk yang langsung bertanggung jawab. Karena lokasi kejadian berada jauh dari pusat Kecamatan Bengalon, beberapa orang berinisiatif membawa korban ke Klinik Perusahaan (PIK).
“Beberapa orang yang berinisiatif bawa korban ke klinik perusahaan, karena waktu itu tidak ada pihak yang mau bertanggung jawab, baik dari pemilik SPK maupun perusahaan,” ungkapnya.
Setelah mendapati penanganan pertama di klinik, korban hanya mendapatkan pertolongan pertama dan kemudian dirujuk ke rumah sakit di Sangatta.
“Klinik hanya berani menangani awal saja mas. Setelah itu korban dirujuk ke RS di Sangatta, tapi saya tidak tahu pasti siapa yang mengantar,” tambahnya.
Menariknya, rujukan tersebut, kata dia, baru terjadi setelah warga menghentikan operasional truk hauling beberapa jam sebagai bentuk protes.
“Setelah truk-truk disetop oleh keluarga korban dan warga, baru muncul pihak-pihak yang punya kepentingan. Dan akhirnya korban juga dibawa langsung ke RS di Sangatta,” katanya.
Akibat kejadian tersebut, masyarakat kembali geram dengan aktivitas angkut muat yang merugikan masyarakat. Pasalnya, akses jalan yang digunakan, berdasarkan keterangan warga sekitar, merupakan akses jalan kampung. Tidak hanya itu, menurut warga, kecelakaan ini bukan kejadian pertama.
“Warga sudah lama resah. Padahal perusahaan punya jalan hauling sendiri di belakang kampung,” ujarnya.

Awalnya, warga masih memaklumi karena jalan hauling belum rampung dan perusahaan berjanji, hanya menggunakan jalan kampung sementara waktu.
“Tapi sudah satu sampai dua tahun, jalan hauling itu tidak tersambung penuh. Truk tetap lewat dari gapura desa sampai ke jalan poros Bengalon–Sangkulirang. Debunya parah sekali,” katanya.
Setelah jalan hauling selesai dibeton, warga berharap truk tidak lagi masuk kampung. Namun persoalan kembali muncul karena lahan yang dilintasi jalan hauling disebut hanya disewa, bukan dibebaskan.
“Lahan warga itu cuma disewa per bulan, dan pembayarannya bermasalah. Karena ditutup pemilik lahan, truk balik lagi lewat jalan kampung. Ini sudah yang kedua kali, bahkan lebih parah,” tegasnya.
Sebelum kejadian penabrakan ini, warga mengaku sudah sering terjadi hampir kecelakaan, terutama terhadap anak-anak.
“Sudah sering hampir kena anak-anak. Truk jalan kencang, tidak sesuai kesepakatan awal,” ungkap warga tersebut.
Dalam dokumen rapat tanggal 28 Januari 2026 kemarin yang kini beredar, tercatat kehadiran Kepala Desa, Kapolsek, perwakilan TNI, PT Hongshi, serta pemilik SPK. Namun, warga dan korban justru tidak dilibatkan.
“Yang jadi ganjalan, tidak ada perwakilan korban atau masyarakat terdampak yang diundang. Bahkan kejadian tabrakan ini tidak dibahas,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar peserta rapat merupakan pihak yang berkaitan terhadap operasional hauling.
“Beberapa pihak terkait cenderung mendukung agar hauling tetap berjalan, baik lewat jalan kampung maupun jalan hauling, karena ada kepentingan SPK dan cicilan truk,” ujarnya.
Situasi tersebut dinilai memicu konflik horizontal di tengah masyarakat, karena sebagian sopir truk juga merupakan warga setempat.
Pada Jumat (30/01/2026) kemarin, keluarga korban dan warga sempat menahan truk agar tidak melintas. Salah satu kerabat korban terlihat berdiri di jalan membawa kertas sebagai bentuk protes.
“Terlihat jelas ada pihak yang mendukung agar truk tetap jalan,” katanya.
Ia juga menyebut adanya pernyataan bernada emosi dari kerabat Kepala Desa.
“Ada yang datang marah-marah bilang, ‘Kenapa ditutup-tutup? Kayak anak kecil saja. Sekalian saja semua jalan kaki.’ Ini jelas menunjukkan ada kepentingan agar truk tetap jalan,” ungkapnya.
Sementara itu, sopir truk menyampaikan keberatan karena alasan ekonomi.
“Mereka bilang cari makan, harus bayar angsuran. Ini yang akhirnya membenturkan warga dengan warga,” jelasnya.
Warga menegaskan bahwa mereka tidak berniat menyusahkan sopir truk maupun perusahaan. Aspirasi utama mereka hanya soal keselamatan.
“Masyarakat tidak mau menyusahkan siapa pun. Aspirasi kami cuma satu, truk hauling dikembalikan ke jalan hauling, bukan lewat jalan kampung,” tegasnya.
Menurut warga, selama jalan kampung terus digunakan sebagai jalur hauling, potensi korban akan terus ada.
“Kalau ini dibiarkan, bukan tidak mungkin korban berikutnya lebih parah,” pungkasnya.
Saat berita ini terbit, masyarakat Desa Sekerat Kecamatan Bengalon, Kab. Kutai Timur masih tetap berusaha untuk meminta kejelasan dan berharap agar kegiatan pengangkutan bahan perusahaan dapat kembali ke jalur hauling yang telah tersedia.
(Editor)









