Loyal Tanpa Tapi, Tegas Tanpa Takut: Iswandi Dan Jalan Panjang Pengabdian Untuk Kota Tepian

- Redaksi

Selasa, 10 Februari 2026 - 23:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi

Foto : Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi

LintasJejaring.com, SAMARINDA— Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Iswandi, menegaskan komitmennya untuk tetap berada di bawah panji “Banteng” seraya menyampaikan bahwa politik, seharusnya dijalani dengan semangat riang gembira, bukan sebagai beban yang penuh ketegangan. Pernyataan tersebut ia sampaikan saat berbagi refleksi perjalanan politiknya bersama awak media di Cafe Reuni Kopi, Kota Samarinda sekaligus menegaskan sikap dan loyalitasnya terhadap partai. Selasa (10/02/2026).

Perjalanan politik Iswandi mencerminkan dinamika panjang kader partai, yang bertahan di tengah perubahan konstelasi politik lokal maupun nasional. Konsistensi ideologis, adaptasi terhadap dinamika internal partai, serta kemampuan bertahan dalam proses elektoral yang tidak selalu mulus, menjadi tantangan tersendiri. Di sisi lain, posisinya sebagai anggota legislatif juga menuntut keseimbangan antara loyalitas partai, dan tanggung jawab terhadap kepentingan publik.

Ia menegaskan komitmennya untuk tetap berkiprah di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI – P). Ia menyebut dirinya sebagai “banteng sejati”, yang telah berproses sejak masa kuliah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau di banteng, saya dari zaman kuliah. Pertama ikut kampanye itu tahun 1992. Waktu itu partainya masih tiga, belum seperti sekarang,” ujarnya saat ditanya awak media soal perjalanan politiknya.

Ia menceritakan, keterlibatannya dalam politik dimulai dari aktivitas organisasi kampus di Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman (Fekon Unmul, sekarang Fakultas Ekonomi dan Bisnis/ FEB). Ia aktif di senat mahasiswa, dan organisasi pergerakan sebelum akhirnya masuk ke struktur partai.

Baca Juga:  IKN Twin Cities, Terlihat Manis atau Miris?

Di internal PDIP, ia mengaku pernah menjabat di kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) selama tiga periode, dengan tujuh kali pergantian ketua. Ia juga pernah membidangi sejumlah sektor, mulai dari organisasi, kaderisasi hingga pertambangan.

“Saya melatih kaderisasi sampai ke daerah-daerah di Kalimantan Timur. Tahun 2014 sebenarnya tidak mau nyaleg, tapi akhirnya maju juga,” katanya.

Pada Pilkada 2015, ia sempat ditugaskan sebagai calon Wakil Wali Kota (Wawali). Namun, dinamika politik membuat posisinya berubah dalam hitungan waktu singkat.

“Di politik itu sepersekian detik bisa berubah, apalagi menjelang momen krusial,” ucapnya.

Pada Pemilu 2019, ia kembali maju namun belum memperoleh kursi. Ia mengaku tidak mempersoalkan hasil tersebut.

“Kalau orang lain mungkin stres, saya santai saja. Kita bisa mengabdi di mana pun,” katanya.

Baru pada periode berikutnya, ia akhirnya duduk sebagai anggota DPRD Samarinda. Ia menilai keputusannya masuk ke dalam sistem, adalah bagian dari strategi untuk mendorong perubahan.

“Kita tidak bisa mengubah sistem kalau tidak ada di dalamnya. Demo saja tidak cukup. Kalau di dalam, kita punya kewenangan, bisa panggil OPD, bisa jalankan fungsi pengawasan,” tegasnya.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kota Samarinda ini menjelaskan bahwa, fungsi DPRD pada dasarnya mencakup tiga hal utama: penganggaran, pengawasan dan legislasi. Menurutnya, kewenangan itu harus dimanfaatkan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Baca Juga:  Sri Puji Ajak Warga Tingkatkan Literasi Digital Lewat Media Sosial

Dalam beberapa isu, ia dikenal cukup vokal. Salah satunya saat menolak rancangan peraturan daerah, terkait penyertaan modal Perumda Varia Niaga.

“Saya tanya, kinerjanya sudah jelas belum? Kontribusinya ke PAD bagaimana? Kalau belum jelas tapi sudah mau bicara tunjangan direksi dan komisaris, itu mencederai masyarakat,” ujarnya.

Meski akhirnya kebijakan tersebut tetap disahkan melalui mekanisme voting, ia mengaku tetap menyampaikan sikapnya sebagai bentuk tanggung jawab.

“Minimal saya sudah mengingatkan. Sekarang ini semua ada jejak digital. Hati-hati,” katanya.

Ia menyebut gaya berpolitiknya sebagai “politik riang gembira”. Menurutnya, politik tidak boleh menjadi beban yang penuh tekanan dan permusuhan, melainkan ruang pengabdian yang dijalani dengan semangat, kebersamaan, dan suasana yang sehat demi kepentingan masyarakat.

“Kalau jadi beban, pusing kepala. Kalau happy, kita jalani saja. Termasuk anggota-anggota saya, kalau tidak senang jangan dipaksa,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, tidak ingin terjun sepenuhnya ke dunia politik sebelum memastikan kondisi ekonomi keluarganya benar-benar stabil, karena baginya kemandirian finansial menjadi fondasi penting agar dapat berpolitik secara tenang, independen, dan tanpa tekanan kepentingan.

“Saya tidak mau ngurus politik, tapi di rumah beras kosong. Makanya saya kerja profesional dulu, baru masuk struktural partai tahun 2010,” katanya.

Ia mengatakan bahwa ia selalu mengingat pesan bahwa, tidak semua orang mendapat kesempatan menjadi anggota dewan sehingga jabatan yang diemban harus disyukuri, dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Baginya, posisi tersebut bukan sekadar status politik, melainkan amanah yang harus dikelola dengan sikap rendah hati dan kerja nyata untuk masyarakat..

“Dari ratusan ribu penduduk Samarinda, yang terpilih hanya 45 orang. Kesempatan itu harus dimanfaatkan, untuk melakukan sesuatu yang benar,” ucapnya.

Menurutnya, menjadi anggota dewan membuka ruang yang lebih luas untuk membantu masyarakat melalui kebijakan dan penganggaran, bukan sekadar bantuan pribadi.

“Kalau pribadi mungkin hanya bisa bantu sedikit. Tapi kalau lewat kebijakan, bisa lebih besar dampaknya,” tutupnya.

 

Baca Juga:  PKB Menuju Partai Modern, Syafruddin Gaungkan 'High Value' Kaderisasi

(Sean)

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas
150 PNS Bulungan Kantongi Satya Lencana, Syarwani: Ini Bukan Sekadar Penghargaan Masa Kerja
Polisi Ungkap Modus Dugaan Pencabulan Siswa SMP di Nunukan, Korban Diduga Diberi Tuak Hingga Mabuk
Pekerja Proyek Stadion Malinau Asal Makassar Meninggal Dunia, Polisi Tak Temukan Bukti Kekerasan
Ribuan Warga Kutim Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Segera Turun
HUT Polwan ke-78, Polres Berau Dorong Polisi Wanita Adaptif Hadapi Era Digital
Kurangi Efek Kemarau Panjang, Polda Kaltara Siram Jalan Untuk Kurangi Debu
Kemarau Tekan Cadangan Air Balikpapan, Puluhan Ribu Pelanggan Hadapi Pengurangan Jam Layanan
Berita ini 64 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 09:32 WITA

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 September 2026 - 09:08 WITA

150 PNS Bulungan Kantongi Satya Lencana, Syarwani: Ini Bukan Sekadar Penghargaan Masa Kerja

Rabu, 9 September 2026 - 08:21 WITA

Polisi Ungkap Modus Dugaan Pencabulan Siswa SMP di Nunukan, Korban Diduga Diberi Tuak Hingga Mabuk

Rabu, 9 September 2026 - 08:01 WITA

Pekerja Proyek Stadion Malinau Asal Makassar Meninggal Dunia, Polisi Tak Temukan Bukti Kekerasan

Rabu, 9 September 2026 - 07:50 WITA

Ribuan Warga Kutim Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Segera Turun

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA