Oleh : Akna Mafaid
Saya sebagai Mahasiswa Program Studi KPI FUAD UINSI Samarinda menilai bahwa kegiatan geng motor di Samarinda ini tidak hanya sekedar upaya anak muda menjadi keren di kalangannya, namun juga bagaimana pengaruh media dan lingkungan memengaruhi bagaimana geng motor itu dipandang oleh anak muda
Dalam dua bulan terakhir ini, Polresta Samarinda menangkap 40 remaja yang terkait dengan kasus geng motor, balap liar dan pengancaman menggunakan senjata tajam yang meresahkan warga. Menurut laporan Prokal (2025) setelah terjadinya balapan di Jl. Pahlawan, Satlantas Polresta Samarinda segera menindak lanjuti dan mengamankan sepeda motor yang digunakan oleh para remaja tersebut.
Fenomena geng motor ini bukan fenomena yang bisa kita anggap remeh, ini adalah cerminan bagaimana sosial media mempengaruhi bagaimana kita mempersepsikan suatu peristiwa. Sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Albert Bandura dalam Social Learning Theory di buku West & Turner, perilaku yang dapat sorotan besar biasanya malah menjadi bahan tiruan anak muda.
Menurut teori Social Learning Theory, perilaku yang termasuk kegiatan menyimpang sering dipelajari melalui pengamatan terhadap model yang dilihat melalui interaksi sosial, media, atau lingkungan sekitar. Proses Observational learning menurut Bandura itu ada 4 : attention (memerhatikan model), retention (mengingat tindakan), reproduction (meniru kemampuan) dan motivation (ganjaran untuk menirunya), dalam konteks geng motor ini, para anak muda mengobservasi geng motor tersebut berpikir bahwa kegiatan viral itu menarik perhatian mereka (attention), mereka meningat cara berkendara dan simbol geng tersebut (retention), menirukan teknik/ritual ketika ada kesempatan (reproduction) dan ketika mereka terlibat dan mendapat pujian oleh teman sekitar atau media sosial, motivasinya untuk melakukan meningkat (motivation).
Mengapa mereka masuk ke perkumpulan geng motor menurut Jurnal Sosio Informa (Irmayani, 2018) dikarenakan para remaja itu mencari jati dirinya, mencari apa yang ingin dia lakukan di dunia ini, dan karena berbagai faktor seperti faktor keluarga, faktor ekonomi, faktor teman dan faktor pskilogis, mereka melihat perkumpulan geng motor sebagai eskapisme dari kenyataan hidup mereka, ditambah kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan positif anak muda, maka dari itu mereka lari ke geng motor, bersama teman temannya yang juga semisal masuk geng motor.
Bagaimana cara menangani dan mencegah anak muda untuk terjerumus ke hal tersebut seperti geng motor dan kegiatan kriminal lainnya? Kita harus memberikan pendampingan dan bimbingan konseling untuk para anak muda tersebut, merehabilitasi anak muda tersebut melalui komunitas, memberikan arahan pada orang tua untuk berperan aktif dalam komunikasi dan pengawasan, membina para anak muda itu dan meningkatkan kolaborasi kepolisian dan masyarakat untuk mencegah geng motor tumbuh dan berkembang, menciptakan sarana dan prasarana yang menunjang minat dan bakat anak muda tersebut.
Media massa dan media sosial juga berperan penting mencegah anak muda untuk masuk ke geng motor dengan menghindari glamorisasi kegiatan geng motor tersebut, menggunakan framing atau narasi yang mencegah melakukan tindakan tersebut, menonjolkan role model yang positif seperti murid berprestasi di luar negeri dan lain sebagainya. Media sosial harus menurunkan algoritma video atau foto yang mempromosikan aksi berbahaya seperti geng motor itu, menandai dan menghapus cepat konten tersebut, menaikkan algoritma konten alternatif yang positif, dan bekerja sama dengan lembaga terkait untuk kampanye dan literasi media digital yang terarah.
Dengan solusi di atas kita dapat menjamin masa depan anak anak kita di masa depan nanti untuk meraih prestasi dan tidak membuat kerusakan di lingkungan sekitar kita.
#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM









