ChatGPT Di Ruang Kelas : Membantu Mahasiswa Atau Mematikan Proses Berpikir?

- Redaksi

Senin, 15 Desember 2025 - 12:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Muhammad Danang, Mahasiswa UINSI Kota Samarinda

Foto : Muhammad Danang, Mahasiswa UINSI Kota Samarinda

Oleh : Muhammad Danang

Sebagai mahasiswa di UINSI Samarinda, saya pikir kehadiran ChatGPT di ruang kelas sudah menjadi kebiasaan. Sebagian siswa memanfaatkan teknologi ini untuk memahami konsep yang rumit, merangkum jurnal, dan membuat kerangka tulisan akademik. Sebuah survei yang dilakukan di institusi pendidikan tinggi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa saat ini menggunakan AI generatif untuk membantu mereka menyelesaikan tugas mereka. Di balik kemudahan, ada kekhawatiran bahwa ketergantungan pada AI dapat merusak proses berpikir kritis, yang sangat penting dalam pendidikan tinggi.

Teori komunikasi kritis, yang melihat teknologi sebagai cara komunikasi yang tidak netral, dapat membantu memahami fenomena ini. Dalam kerangka ini, hubungan kuasa yang dibawa teknologi dapat memengaruhi cara orang berpikir, belajar, dan bagaimana siswa berpartisipasi dalam proses produksi pengetahuan. Menurut Laporan UNESCO (2023), peran refleksi dan penalaran akan diubah karena adopsi AI yang cepat di pendidikan tidak diimbangi dengan literasi kritis yang cukup. Akibatnya, ChatGPT tidak hanya meningkatkan hasil belajar tetapi juga mempengaruhi tingkat kesadaran kritis siswa.

Baca Juga:  Rumah Tanpa Kekerasan : Refleksi Mahasiswi PKL Dari Sosialisasi Psikolog Puspaga Di Perumahan Sempaja Residence

ChatGPT pada dasarnya adalah alat dan tidak berfungsi sebagai pengganti logika. Masalah muncul ketika siswa menggunakannya sebagai cara pintas dengan menyalin jawaban tanpa memahami logika di baliknya. Menurut penelitian eksperimental yang dilakukan di MIT, siswa yang terlalu bergantung pada kecerdasan buatan untuk menulis mengalami penurunan keterlibatan kognitif dan pemahaman konsep. Dalam keadaan seperti ini, ruang kelas secara bertahap berubah menjadi tempat untuk menyelesaikan tugas. Mahasiswa tampak aktif, tetapi mereka tidak benar-benar berpikir, yang menghasilkan output semu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, tidak adil untuk meletakkan ChatGPT di pihak yang salah. Sejarah menunjukkan bahwa teknologi baru, seperti internet dan kalkulator, selalu dianggap mengancam metode pendidikan konvensional. Teknologi justru dapat meningkatkan kemampuan manusia jika digunakan dengan hati-hati. ChatGPT dapat dianggap sebagai asisten intelektual dalam komunikasi kritis karena mendorong siswa untuk bertanya, membandingkan pendapat, dan menguji argumen mereka sendiri. Oleh karena itu, peran institusi pendidikan dan etika penggunaan menjadi sangat penting. Campus tidak cukup hanya melarang, tetapi juga harus mengajarkan literasi AI: kapan ChatGPT digunakan, bagaimana memverifikasi jawabannya, dan bagaimana menjadikannya alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir. Selain itu, dosen harus mengubah cara mereka menilai siswa, beralih dari sekadar menilai hasil akhir ke proses penalaran siswa.

Baca Juga:  Komunikasi Publik Dalam Pembangunan IKN Di Kalimantan Timur

Contoh nyata di berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, menunjukkan bahwa dosen menemukan makalah mahasiswa yang sangat formal, terorganisir dengan baik, dan tidak mengandung kesalahan teknis yang signifikan. Namun, siswa kesulitan menjelaskan alasan mereka sendiri saat berbicara atau ditanyai. Fenomena ini juga terlihat dalam laporan dari beberapa kampus yang telah beralih dari penilaian ke presentasi lisan dan refleksi pribadi untuk memastikan bahwa pemahaman siswa benar-benar benar.

Baca Juga:  Grup Sirkel di SEKATA, Jadi Wadah Refleksi Dinamika Emosional

Pada akhirnya, keberadaan ChatGPT di ruang kelas Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Teknologi bukanlah masalah utama; persoalannya terletak pada bagaimana mahasiswa dan kampus mengelolanya. ChatGPT dapat menjadi alat pembelajaran yang memperkuat nalar akademik jika digunakan secara kritis dan etis. Ruang kelas seharusnya tidak menolak teknologi, tetapi memastikan bahwa akal mahasiswa, bukan algoritma, yang tetap menjadi pusat proses belajar.

 

#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM

 

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

September Membuat Sejarah Kelam Baru? Masih Layakkah Kalimantan Disebut Paru-Paru Dunia?
Maulid Nabi: Adilkah Jika Hanya Mencintai Secara Spiritual?
81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia
Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu
Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar
UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur
IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?
Dinamika Sosialisasi Beasiswa Gratispol 2026 Tahap 1
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 15:45 WITA

September Membuat Sejarah Kelam Baru? Masih Layakkah Kalimantan Disebut Paru-Paru Dunia?

Selasa, 15 September 2026 - 16:32 WITA

Maulid Nabi: Adilkah Jika Hanya Mencintai Secara Spiritual?

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:37 WITA

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:19 WITA

Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:49 WITA

Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar

Berita Terbaru