Oleh : Muhammad Danang
Sebagai mahasiswa di UINSI Samarinda, saya pikir kehadiran ChatGPT di ruang kelas sudah menjadi kebiasaan. Sebagian siswa memanfaatkan teknologi ini untuk memahami konsep yang rumit, merangkum jurnal, dan membuat kerangka tulisan akademik. Sebuah survei yang dilakukan di institusi pendidikan tinggi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa saat ini menggunakan AI generatif untuk membantu mereka menyelesaikan tugas mereka. Di balik kemudahan, ada kekhawatiran bahwa ketergantungan pada AI dapat merusak proses berpikir kritis, yang sangat penting dalam pendidikan tinggi.
Teori komunikasi kritis, yang melihat teknologi sebagai cara komunikasi yang tidak netral, dapat membantu memahami fenomena ini. Dalam kerangka ini, hubungan kuasa yang dibawa teknologi dapat memengaruhi cara orang berpikir, belajar, dan bagaimana siswa berpartisipasi dalam proses produksi pengetahuan. Menurut Laporan UNESCO (2023), peran refleksi dan penalaran akan diubah karena adopsi AI yang cepat di pendidikan tidak diimbangi dengan literasi kritis yang cukup. Akibatnya, ChatGPT tidak hanya meningkatkan hasil belajar tetapi juga mempengaruhi tingkat kesadaran kritis siswa.
ChatGPT pada dasarnya adalah alat dan tidak berfungsi sebagai pengganti logika. Masalah muncul ketika siswa menggunakannya sebagai cara pintas dengan menyalin jawaban tanpa memahami logika di baliknya. Menurut penelitian eksperimental yang dilakukan di MIT, siswa yang terlalu bergantung pada kecerdasan buatan untuk menulis mengalami penurunan keterlibatan kognitif dan pemahaman konsep. Dalam keadaan seperti ini, ruang kelas secara bertahap berubah menjadi tempat untuk menyelesaikan tugas. Mahasiswa tampak aktif, tetapi mereka tidak benar-benar berpikir, yang menghasilkan output semu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, tidak adil untuk meletakkan ChatGPT di pihak yang salah. Sejarah menunjukkan bahwa teknologi baru, seperti internet dan kalkulator, selalu dianggap mengancam metode pendidikan konvensional. Teknologi justru dapat meningkatkan kemampuan manusia jika digunakan dengan hati-hati. ChatGPT dapat dianggap sebagai asisten intelektual dalam komunikasi kritis karena mendorong siswa untuk bertanya, membandingkan pendapat, dan menguji argumen mereka sendiri. Oleh karena itu, peran institusi pendidikan dan etika penggunaan menjadi sangat penting. Campus tidak cukup hanya melarang, tetapi juga harus mengajarkan literasi AI: kapan ChatGPT digunakan, bagaimana memverifikasi jawabannya, dan bagaimana menjadikannya alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir. Selain itu, dosen harus mengubah cara mereka menilai siswa, beralih dari sekadar menilai hasil akhir ke proses penalaran siswa.
Contoh nyata di berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, menunjukkan bahwa dosen menemukan makalah mahasiswa yang sangat formal, terorganisir dengan baik, dan tidak mengandung kesalahan teknis yang signifikan. Namun, siswa kesulitan menjelaskan alasan mereka sendiri saat berbicara atau ditanyai. Fenomena ini juga terlihat dalam laporan dari beberapa kampus yang telah beralih dari penilaian ke presentasi lisan dan refleksi pribadi untuk memastikan bahwa pemahaman siswa benar-benar benar.
Pada akhirnya, keberadaan ChatGPT di ruang kelas Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Teknologi bukanlah masalah utama; persoalannya terletak pada bagaimana mahasiswa dan kampus mengelolanya. ChatGPT dapat menjadi alat pembelajaran yang memperkuat nalar akademik jika digunakan secara kritis dan etis. Ruang kelas seharusnya tidak menolak teknologi, tetapi memastikan bahwa akal mahasiswa, bukan algoritma, yang tetap menjadi pusat proses belajar.
#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM









