Oleh : Rosuli
Dalam persepsi umum lemabaga pemasyarakatan (lapas) sering dipandang sebagai ruang gelap yang identik dengan hukuman, kriminalitas dan keterbatasan hidup, namun dibalik tembok tinggi dan jeruji besi itu, sebenarnya menyimpan potensi besar sebagai runag transformasi manusia. Dalam ruang inilah dakwah menjadi sangat relevan, dimana dakwah bukan hanya sekedar aktifitas ceramah keagamaan, akan tetapi juga proses membimbing manusia untuk menata hati, memperbaiki diri, dan kembali kejalam fitrah.
Lapas sebagai ruang pembinaan bukan hanya penghukuman Paradigma pemasyarakatan di Indonesia sejatinya didasarkan pada konsep restorative justice, bukan balas dendam. Tujuannya adalah mengembalikan warga binaan agar mampu berfungsi kembali di masyarakat. Namun, praktiknya sering kali lapas dipandang semata tempat menahan orang yang salah. Stigma publik pun memperkuat pandangan itu: warga binaan dianggap masa lalunya hitam dan tidak layak diberi kesempatan kedua.
Padahal, banyak warga binaan berasal dari latar belakang sosial yang kompleks: kemiskinan, kurang pendidikan, lingkungan pergaulan yang tidak sehat, hingga trauma keluarga. Kesalahan yang mereka lakukan sering kali merupakan akumulasi dari problem struktural yang tak terselesaikan. Maka, ketika mereka masuk lapas, negara memiliki peran moral untuk tidak hanya menghukum, tetapi juga membina. Di sinilah dakwah hadir sebagai instrumen penting untuk memperhalus wajah pemasyarakatan. Dakwah yang humanis dan penuh empati dapat menjadi jembatan antara luka masa lalu dan harapan masa depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga binaan sering mengalami beban psikologis yang berat seperti rasa malu, marah pada diri sendiri, kecemasan tentang masa depan, dan kehilangan harga diri. Tanpa pendampingan spiritual, kondisi ini dapat berkembang menjadi depresi atau bahkan kenekatan. Dakwah hadir sebagai terapi batin yang membantu mereka mengenali kembali nilai hidup, makna taubat, dan pentingnya harapan. Kegiatan seperti mengaji, kajian keagamaan, konseling spiritual, terbukti mampu mengubah suasana batin warga binaan. Bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi menciptakan ketenangan, kedekatan dengan Tuhan, dan rasa dihargai sebagai manusia. Banyak warga binaan yang mengaku baru menyentuh kembali sisi spiritual dalam hidupnya justru saat berada di balik jeruji. Kondisi isolatif lapas membuat mereka lebih banyak merenung dan mencari pegangan hidup. Dakwah yang tepat sasaran dapat menjadi pegangan tersebut.
Dakwah di lapas menuntut pendekatan yang berbeda dari dakwah di luar. Dai tidak bisa hanya datang untuk menyampaikan ceramah singkat lalu pulang. Mereka harus memiliki sensitivitas sosial, kemampuan konseling, serta keteladanan moral. Warga binaan tidak hanya butuh nasihat, tetapi juga pendampingan. Mereka butuh sosok yang mau mendengarkan, bukan menghakimi.
Pendekatan humanis ini menjadi kunci keberhasilan dakwah di lapas. Ketika seorang dai menunjukkan bahwa ia melihat warga binaan sebagai manusia yang setara, bukan sebagai “kriminal”, wibawa moralnya akan diterima. Dai yang baik harus menjadi teman dialog, bukan hakim moral. Karena itu, peran dai di lapas sebenarnya sangat mulia: mereka menjadi jembatan antara masa lalu yang kelam dan masa depan yang terang. Idealnya, dakwah di lapas juga terintegrasi dengan program pembinaan lain seperti pelatihan keterampilan, rehabilitasi sosial, dan pembinaan kerja. Dengan demikian, transformasi warga binaan tidak hanya terjadi secara batin, tetapi juga secara sosial dan ekonomi.
Lapas memiliki dinamika sosial tersendiri. Di dalamnya, tercipta struktur informal, kelompok-kelompok kecil, bahkan hierarki sosial yang unik. Jika tidak diarahkan, lingkungan ini bisa memperparah perilaku negatif. Namun, jika diarahkan dengan program yang tepat, ia bisa menjadi ruang pembinaan yang efektif. Program dakwah dapat menjadi sarana untuk memecah pola negatif dan menciptakan budaya baru di dalam lapas. Misalnya: budaya gotong royong, salat berjamaah, diskusi positif, dan kerja sama dalam kegiatan keagamaan. Hal ini membantu mengurangi konflik, meningkatkan solidaritas, serta membangun ketenangan psikologis. Dalam situasi terbatas seperti lapas, kegiatan dakwah juga dapat menjadi aktivitas yang memberi waktu warga binaan untuk keluar sejenak dari rutinitas monoton.
Salah satu tantangan terbesar bagi warga binaan adalah kembali ke masyarakat. Stigma sosial sering kali lebih menyakitkan dibanding hukuman di dalam lapas. Banyak dari mereka yang sulit mendapat pekerjaan, dijauhi lingkungan, atau bahkan ditolak keluarga. Jika mental dan spiritual tidak disiapkan sejak di dalam lapas, mereka sangat rentan terjerumus kembali ke kesalahan lama.
Dakwah menanamkan prinsip penting: setiap manusia punya kesempatan kedua. Prinsip ini bukan hanya penting bagi warga binaan, tetapi juga bagi masyarakat yang kelak akan menerima mereka kembali. Dakwah mengajarkan nilai pemaafan, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Dengan pembinaan spiritual yang kuat, warga binaan lebih siap menghadapi stigma dan tantangan hidup setelah bebas. Program dakwah juga dapat membantu membentuk karakter pekerja keras, disiplin, dan mandiri. Ketika nilai-nilai ini mengakar, proses reintegrasi sosial menjadi lebih mudah. Banyak warga binaan yang kemudian menemukan kehidupan yang lebih sehat, lebih religius, dan lebih produktif setelah keluar dari lapas.
Pada akhirnya, hubungan antara lapas dan dakwah adalah hubungan antara ruang luka dan proses penyembuhan. Lapas menyimpan cerita tentang manusia-manusia yang terpeleset dalam perjalanan hidup, tetapi belum kehilangan hak untuk berubah. Dakwah hadir bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membimbing, merangkul, dan membuka jalan pulang. Jika dakwah dipahami sebagai upaya memanusiakan manusia dan membimbingnya pada kebaikan, maka lapas adalah salah satu ladang dakwah paling mulia yang patut mendapat perhatian. Di sana, dakwah tidak hanya mengubah perilaku, tetapi juga membentuk kembali masa depan. Lapas bukan sekadar tempat menjalani hukuman; ia adalah ruang untuk menemukan cahaya baru, dan dakwah adalah salah satu lentera terpenting di dalamnya.
#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM









