Oleh : Mar Athusholihah
Balikpapan sering dikenal sebagai kota minyak, kota yang sibuk dengan berbagai macam industri dan perkembangan ekonomi yang pesat. Namun, di balik hiruk-pikuk itu, terdapat sebuah bangunan sederhana yang menyimpan denyut kehidupan yang jauh lebih kencang daripada mesin kilang mana pun. Tempat itu adalah rumah singgah kanker anak kota Balikpapan.
Sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) yang berkesempatan melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di lokasi tersebut, saya dan rekan-rekan datang dengan membawa bekal teori tentang psikologi perkembangan dan teknik konseling. Namun, realita di lapangan mengajarkan saya bahwa bagaimana sudut-sudut kecil di rumah ini menjadi saksi bisu perjuangan mereka melawan penyakit mematikan.
Di rumah singgah ini, peran konseling bertransformasi dalam pendampingan psikososial. Kami tidak sedang menghadapi siswa yang bolos sekolah, melainkan anak-anak tak berdosa yang harus berdamai dengan jarum infus, efek samping kemoterapi, hingga rasa sakit yang tak tertuliskan. Bukan hanya bagi sang anak, bagi orang tua yang berperan sebagai pendamping juga merasakan sakit yang tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata.
Di setiap sudut kecil rumah singgah ini, mulai dari ruang bermain yang penuh boneka, ruang baca yang penuh berbagai macam jenis buku, ruang tengah yang penuh canda tawa, hingga teras dan dapur sebagai tempat orang tua menumpahkan semua keresahan mereka. Tugas kami sebagai calon konselor bukan untuk menyembuhkan kanker mereka secara medis, akan tetapi tugas kami adalah menyembuhkan semangat mereka yang patah, mendengarkan ketakutan mereka yang tak terucap, dan memvalidasi perasaan lelah yang mereka alami.
Di sudut ruang tengah rumah singgah, kami sering menghabiskan waktu untuk duduk bersama anak-anak penderita kanker. Praktik konseling di sini tidak melulu soal duduk berhadapan di kursi formal. Konseling terjadi ketika menemani mereka menggambar, saat membacakan dongeng untuk mengalihkan rasa nyeri pasca kemotherapi, atau sekedar ikut melontarkan kata-kata lucu di samping orang tua yang sedang menangis di dalam hati. Kami menghabiskan waktu selama satu bulan penuh di tempat ini untuk merasakan langsung dinamika tersebut.
Saya belajar bahwa mendengar secara aktif adalah obat yang ampuh. Bagi orang tua pasien yang datang dari berbagai penjuru Kalimantan Timur bahkan di luar nya, rumah singgah bukan sekedar tempat tidur gratis. Melainkan ruang aman dimana mereka tidak akan merasa sendirian. Kehadiran mahasiswi PKL program studi Bimbingan dan Konseling Islam memberikan ruang tersendiri bagi emosional mereka. Ketika medis fokus pada perbaikan sel tubuh, pendekatan konseling fokus pada penguatan jiwa. Kesehatan mental anak dan pendampingnya harus tetap terjaga agar imun tubuh pun turut membaik.
Judul opini ini, “Menaruh Harapan Besar di Setiap Sudut Kecil Rumah Singgah Kanker Anak Kota Balikpapan”, bukan sekedar metafora atau analogi. Saya menyaksikan sendiri bagaimana seorang anak yang baru saja muntah hebat akibat obat, bisa tersenyum lebar hanya karena berhasil menyusun menara balok di ruang bermain. Saya juga menyaksikan bagaimana ikhlas nya orang tua yang menyuapi anak mereka makan seolah tidak terjadi apa-apa setelah menerima fakta bahwa anak yang ada di hadapannya saat itu memiliki hidup yang tidak akan lama lagi.
Mereka, anak-anak pejuang kanker di Balikpapan ini adalah guru kehidupan yang sesungguhnya. Ketahanan yang mereka miliki mengajarkan saya untuk mendefiniskan ulang arti dari kata “masalah”. Di sudut-sudut kecil rumah singgah ini, kami dengan sadar bahwa Tuhan bekerja melewati senyum tulus para relawan, ketabahan orang tua, dan tawa anak-anak yang menolak menyerah pada diagnosis.
Rumah singgah kanker anak kota Balikpapan mungkin terlihat sederhana dari luar. Namun, bagi kami yang pernah masuk dan tinggal langsung di atap yang sama selama satu bulan di dalam nya, setiap sudut kecil di sana adalah harapan. Bagi saya serta rekan-rekan mahasiswi Bimbingan dan Konseling Islam UINSI Samarinda lainnya, menjadi bagian kecil dari perjalanan besar mereka adalah sebuah kehormatan yang tidak ternilai. Saya belajar bahwa harapan tidak selalu berwujud kesembuhan total, tapi bisa berwujud pada kualitas hidup yang penuh kebahagiaan di setiap detiknya, dan itu layak diperjuangkan serta didapatkan oleh mereka dengan senyum tulus setiap hari nya.
#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM









