Tambang, Debu, Dan Suara – Suara Yang Tak Didengar 

- Redaksi

Minggu, 14 Desember 2025 - 15:04 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Muhammad Irfan Umar Abdullah Said, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, UINSI Samarinda 

Foto : Muhammad Irfan Umar Abdullah Said, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, UINSI Samarinda 

Oleh : M. Irfan Umar Abdullah Said 

Suara yang Tak Didengar 

Di banyak sudut wilayah Kalimantan Timur, tambang batubara telah menjadi pemandangan umum. Namun, tersembunyi di balik jalanan hitam dan lalu lalang truk – truk besar, terdapat suara-suara lirih masyarakat yang seringkali tak terdengar. Mereka berbicara, tetapi seolah tidak didengarkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Inilah masalah komunikasi lingkungan yang paling mendasar dalam masyarakat: bukan hanya tentang siapa yang berbicara, tetapi siapa yang didengar.

Komunikasi Sepihak dan Etika yang Diuji Perusahaan pertambangan sering mengklaim telah melakukan sosialisasi dan komunikasi publik sebelum memulai operasi. Namun, komunikasi yang mereka lakukan biasanya cenderung satu arah—bersifat informatif, bukan partisipatif.

Baca Juga:  Lapas Dan Dakwah : Menbangun Jalan Pulang Bagi Warga Binaan

Masyarakat diberi tahu, bukan diajak berkonsultasi. Faktanya, dalam teori komunikasi lingkungan, keberhasilan suatu kebijakan tidak bergantung pada seberapa banyak informasi disebarluaskan, melainkan pada kedalaman makna bersama yang dibangun di antara pihak-pihak yang terlibat.

Di sisi lain, masyarakat lokal seringkali hanya menjadi “penerima dampak”, tanpa ruang memadai untuk menyampaikan keluhan. Ketika air sungai keruh, tanaman tertutup debu, dan jalan rusak akibat lalu lintas alat berat, protes mereka sering dianggap sebagai hambatan investasi.

Di sinilah etika komunikasi diuji. Komunikasi yang beretika seharusnya mengedepankan empati, kejujuran, dan transparansi—bukan sekadar formalitas laporan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Peran Media dalam Keadilan Informasi Media massa lokal memiliki peran kunci dalam meningkatkan kesadaran publik. Namun, dalam praktiknya, liputan tentang pertambangan sering kali tidak seimbang berita tentang peresmian proyek lebih menonjol daripada laporan kerusakan lingkungan.

Baca Juga:  Opini Mahasiswa FUAD UINSI Samarinda Tentang Ancaman Banjir Kaltim : Belajar Dari Sumatra

Padahal, fungsi komunikasi massa seharusnya menjadi forum dialog publik, bukan hanya corong kepentingan ekonomi.

Nilai Komunikasi dalam Perspektif Islam Perspektif komunikasi Islam mengajarkan hal yang serupa. Al-Qur’an menekankan pentingnya qaulan sadīda (perkataan yang benar) dan qaulan layyina (perkataan yang lembut).

Dalam konteks pertambangan, ini berarti pemerintah dan perusahaan harus berbicara dengan kejujuran dan mendengarkan masyarakat dengan hati terbuka. Lingkungan bukan sekadar sumber daya, melainkan amanah yang harus dijaga bersama.

Tantangan Baru Kalimantan Timur 

Kini, Kalimantan Timur menghadapi tantangan baru terkait pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Jika pola komunikasi lingkungan yang timpang terus berlanjut, konflik sosial dan kerusakan alam bisa menjadi warisan yang sulit diperbaiki.

Baca Juga:  IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?

Menumbuhkan Komunikasi Sejati 

Komunikasi seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan, bukan tembok yang memisahkan. Sudah saatnya perusahaan, pemerintah, dan masyarakat membangun komunikasi yang autentik, komunikasi yang menumbuhkan saling pengertian, bukan sekadar memenuhi kewajiban.

Karena pada akhirnya, bumi yang hancur bukan hanya milik mereka yang menambangnya, tetapi juga milik anak cucu kita yang akan mewarisinya.

 

#Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Terbitan tidak berkaitan /mewakili pandangan Redaksi LINTASJEJARING.COM

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia
Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu
Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar
UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur
IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?
Dinamika Sosialisasi Beasiswa Gratispol 2026 Tahap 1
Pelaksanaan PKL Mahasiswa prodi Manajemen Dakwah (UINSI) Di DPRD Provinsi Kalimantan Timur
Univisual Studio : Ruang Inovasi Mahasiswa Bagi Agen Perubahan
Berita ini 64 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:37 WITA

81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Perdamaian Aceh, Pembangunan SDM, dan Masa Depan Hutan Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:19 WITA

Menata Hati & Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Dalam Majelis Ilmu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:49 WITA

Petani Sawit Tak Butuh AI yang Sok Pintar

Kamis, 1 Januari 2026 - 08:12 WITA

UMKM Di Tengah Gempuran Digital : Masalah Akses Dan Komunikasi Pemberdayaan Di Kalimantan Timur

Senin, 29 Desember 2025 - 08:30 WITA

IKN Dan Wajah Baru Kalimantan Timur : Siapa Yang Beradaptasi, Siapa Yang Tertinggal?

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi IAIN Tana Tidung. (MetaAI)

Tana Tidung

20,13 Hektar Untuk IAIN Tana Tidung, Pemkab Kebut Sertifikas

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:32 WITA