Lintasjejaring.com, Samarinda – Desa Budaya Pampang tertelak di Jalan Wisata Budaya Pampang, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda merupakan salah satu wujud Perekonomian mandiri Kota Samarinda melalui jalur wisata budaya.
Tidak hanya berpatokan pada acara – acara adat budaya saja, akan tetapi masyarakat Desa Budaya Pampang juga menghadirkan kerajinan tangan suku Dayak yang dapat dibeli oleh para wisatawan. Dengan lokasi desa yang strategis yakni sebelum Bandara APT Pranoto jika dari Kota Samarinda, dan sebelum Kota Samarinda jika dari Bandara APT Pranoto, membuat wisatawan sering berkunjung mampir di Desa ini.
Menjamurnya aktivitas UMKM yang didukung status Desa Budaya tentunya memberikan dampak langsung pada para masyarakat setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Desa budaya Pampang sendiri adalah pemukiman dari warga suku Dayak Kenyah, desa ini berdiri mulai dari akhir tahun 1980 – an hingga saat ini. Desa Pampang sendiri ditetapkan sebagai Desa Budaya pada tahun 1991.
Dengan pesatnya toko UMKM hasil kerajinan tangan para masyarakat Desa Pampang, membuat wisatawan yang berkunjung di Desa Budaya Pampang kerap membawa berbagai macam oleh – oleh khas kerajinan tangan suku Dayak Kenyah.
Menurut pengalamannya, para wisatawan yang datang untuk menyaksikan pertunjukan seni dan mengenal budaya Dayak turut memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Aktivitas wisata inilah yang kemudian menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak pelaku UMKM di Desa Budaya Pampang.
Salah satu penjual hasil Kerajinan Tangan Dayak Kenyah yang tak ingin namanya disebutkan, menjelaskan bahwa para wisatawan yang hadir tidak hanya mengenal budaya Dayak Kenyah lewat tarian dan acara adat, tetapi juga bisa membawa pulang buah tangan dari budaya Dayak Kenyah.
Belum lagi usaha dari Pemerintah Kota Samarinda (Pemkot Samarinda) dan Hetifah, selaku Ketua Komisi X DPR – RI, yang sering mempromosikan Desa Budaya Pampang serta, sering mengajak Tamu – tamu penting untuk berkunjung ke Desa Budaya Pampang membuat Desa Budaya Pampang semakin dikenal di khalayak luas.
“Dengan semakin dikenalnya Desa Budaya Pampang, semakin banyak acara yang diadakan oleh Pemkot dan Bu Hetifah, maka semakin banyak pengunjung yang datang, sehingga penjualan kami juga ikut naik, kalau sedang ramai – ramainya tas rajut, kain songket, dan gelang manik – manik biasanya lebih sering cepat habis,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa, wilayah Lamin Adat menjadi wilayah pusat tempat wisatawan paling ramai berkunjung, selain menyaksikan penampilan tari – tarian khas Dayak, serta membeli souvenir kerajinan tangan Dayak Kenyah, para pengunjung juga dapat bercengkrama langsung dengan masyarakat setempat.
“Dengan seiring bertambahnya pengunjung dari waktu ke waktu, kami harap fasilitas wisata dapat terus dijaga, agar para wisatawan tidak bosan untuk terus berkunjung,” jelasnya.
Selain gelang dan kalung manik yang sering menjadi souvenir yang paling laris, Kaos Motif Dayak, Tas Rajut, sarung, kain songket, ukiran kayu, serta kerajinan batu giok. Nilai budaya yang terkandung didalam hasil kerajinan tangan ini juga menjadi nilai tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung.
“Kain Songket hasil buatan warga sini, menjadi salah satu barang yang paling sering dicari oleh para wisatawan. Apalagi kain songket tersebut, langsung dari para pengrajinnya,” ungkapnya.
Para pelaku UMKM berharap kondisi tersebut, agar dapat terus berlanjut agar perekonomian masyarakat di Desa Budaya Pampang dapat semakin berkembang. Mereka juga berharap kegiatan – kegiatan di wisata Desa Budaya Pampang, dapat tetap dipromosikan agar kunjungan wisatawan tidak menurun.
“Jika ramai pengunjung, UMKM pasti akan terus hidup,” tutupnya.
(Sean)









