Dari Stigma hingga Diskriminasi, Isu Perempuan Menggema Di Ruang Sastra Kaltim

- Redaksi

Senin, 29 September 2025 - 11:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Kegiatan Diskusi Terkait Perempuan Di Ruang Sastra Kalimantan Timur.

Foto : Kegiatan Diskusi Terkait Perempuan Di Ruang Sastra Kalimantan Timur.

Lintasjejaring.com, Samarinda – Persoalan sepak terjang perempuan di Indonesia tentu tidak pernah ada habisnya, baik dalam segi karya sastra Indonesia, maupun media massa. Meski semangat dalam menggaungkan emansipasi kerap hadir di berbagai ruang, nyatanya narasi perempuan, kerap dipinggirkan atau sekedar menjadi pelengkap, dari narasi utama.

Atas dasar itu, Ruang Sastra Kalimantan Timur (Kaltim), telah menggelar diskusi bincang pada Rabu Sore, diskusi ini bersifat spesial karena Bertemakan, Perempuan Dalam Sastra Indonesia, di Aula Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Samarinda, Rabu (24/9).

Suhairi, selalu Ketua Ruang Sastra Kaltim sekaligus menjadi moderator diskusi, menyebut bahwa kegiatan ini, menjadi ruang untuk kembali membicarakan persoalan perempuan, melalui karya sastra yang dekat, dengan kehidupan sehari – hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Persoalan perempuan itu, sangat personal. Tiap perempuan memiliki persoalan khas, dan kompleks,” ungkapnya.

Dalam diskusi tersebut, terdapat tiga novel dan satu kumpulan cerpen, yang menjadi bahan pembahasan.

Baca Juga:  Dispora Kaltim Upayakan Pembinaan Terhadap Pesilat Muda Kaltim Melalui Berbagai Kejuaraan Antar Pelajar

Agra Liz Tantri, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman selaku Pembicara Pertama, mengulas novel lebih senyap dari Bisikan, Karya Andina Dwifatma. Menurutnya, banyak perempuan dalam novel itu, berjuang melawan stereotipe yang kuat dalam masyarakat.

“Banyak Perempuan berjuang melawan stereotipe yang sudah melekat. Hal itu terhubung dengan pengalaman sehari – hari,” ucapnya.

Novel tersebut mengisahkan, tentang sepasang suami – istri yang telah lama menikah, akan tetapi belum dikarunia anak, hingga menjadi sebuah bahan perbincangan di lingkungan sekitar.

Sementara itu, Hana Putriani dari Samarinda Book Party, membahas novel Perkumpulan Anak Luar Nikah karya Grace Tioso. Hana mengamuk emosional, saat membaca novel yang menyoroti diskriminasi terhadap etnis Tionghoa.

“Novel ini membuat saya marah, kesal, sedih, bahkan menangis, karena tergambar betul diskriminasi yang dilalui,” katanya.

Novel tersebut, menyinggung sejarah kelam diskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia, termasuk tragedi 1988, yang hingga kini belum tuntas diusut oleh negara.

Baca Juga:  3 Ribu Bendera Merah Putih Dibagikan di Bulungan, Bupati Ajak Warga Kibarkan Selama Agustus

Diskusi berlanjut, dengan ulasan Refinaya, aktivis Perempuan Mahardika, terhadap novel Duri dan Kutuk Karya Cicilia Oday. Menurut Naya, karya itu relevan dibicarakan pada momentum Hari Tani Nasional.

“Novel ini mengisahkan Eva, seorang perempuan yang lahir tumbuhan, ia bergulat dengan tubuhnya sendiri,” jelasnya.

Novel ini sendiri, juga menyinggung isu pubertas melalui tokoh Adam, yang menurut Naya jarang diangkat dalam Sastra Indonesia.

“Padahal masa pubertas, adalah fase awal seseorang, baik laki – laki maupun perempuan, mengenal tubuhnya,” tambahnya.

Terkahir, K. Irul Umam, Seorang Jurnalis sekaligus Ketua Tarekat Menulis Samarinda, membedah kumpulan cerpen Neraka, yang Turun di Kebun Kelapa karya Ida Fitri.

“Ida Fitri, tidak selalu menampilkan suara perempuan secara langsung. Dalam kumpulan cerpen ini, justru banyak suara yang maskulin,” ungkapnya.

Penulis asal Aceh, Ida Fitri, merekam trauma masyarakat, ketika daerahnya menjadi Daerah Operasi Militer (DOM), sejak awal 1990 – an. Salah satu karyanya, Paya Nie, bahkan meraih Juara 1 Dewan Kesenian Jakarta 2023.

Baca Juga:  Pelantikan Pengurus Wilayah ISNU Kalimantan Timur: Dorong Peran Strategis dalam Pembangunan IKN

Dari keempat karya yang dibahas, suara perempuan muncul dalam beragam bentuk : Mulai Dari Isu Privat, Diskriminasi Rasial, Hingga pengalaman kekerasan di bawah struktur negara.

Semua isu tersebut, masih dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, dan para penulis berupaya merawat pengalaman, yang tidak hanya dialami oleh satu perempuan saja, melainkan menjadi bagian dari suatu perjalanan kolektif.

 

(Sean)

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dinkes Samarinda Siagakan Puskesmas Palaran dan Makroman Hadapi Ancaman ISPA akibat Karhutla
PMII Unmul Surati Prabowo-Gibran, Soroti Legitimasi Pemilihan Rektor
Pemekaran Desa di Kukar Diusulkan Jadi Desa Persiapan, Arianto: Masih Tahap Verifikasi
Dishub Kukar Harapkan Perusahaan Bantu Bus Sekolah di Wilayah Sulit Dijangkau
Dishub Kukar Dorong Edukasi untuk Tingkatkan Kesadaran dan Keselamatan Berlalu Lintas
37 Orang Diperiksa Polisi, Dugaan Pencurian Kabel Bawah Tanah di Samarinda Diusut
Sekolah Lansia Kukar Siapkan Wisuda, DP2KB Sebut Pembelajaran Dorong Lansia Lebih Mandiri
Program Bunga Desaku Kukar Terpilih Ikuti Kompetisi Inovasi Tingkat Provinsi

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 21:46 WITA

Dinkes Samarinda Siagakan Puskesmas Palaran dan Makroman Hadapi Ancaman ISPA akibat Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 - 20:25 WITA

PMII Unmul Surati Prabowo-Gibran, Soroti Legitimasi Pemilihan Rektor

Senin, 26 Oktober 2026 - 20:05 WITA

Pemekaran Desa di Kukar Diusulkan Jadi Desa Persiapan, Arianto: Masih Tahap Verifikasi

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:20 WITA

Dishub Kukar Harapkan Perusahaan Bantu Bus Sekolah di Wilayah Sulit Dijangkau

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:09 WITA

Dishub Kukar Dorong Edukasi untuk Tingkatkan Kesadaran dan Keselamatan Berlalu Lintas

Berita Terbaru