Lintasjejaring.com, Samarinda – Ancaman bencana seperti banjir dan longsor masih menghantui sejumlah wilayah di Kota Samarinda. Cuaca ekstrem dan tingginya intensitas hujan disebut sebagai faktor utama yang memperparah kondisi.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi I DPRD Samarinda, Markaca, mengingatkan pentingnya aspek keselamatan dan keberlanjutan dalam pembangunan perumahan. Ia menilai, selama ini pembangunan lebih berorientasi pada keuntungan semata.
“Pengembang harus berpikir jangka panjang. Pembangunan bukan hanya soal menjual rumah, tapi juga menciptakan lingkungan yang aman dan layak huni untuk puluhan tahun ke depan,” kata Markaca, Senin (19/5/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menyoroti proses perizinan yang dinilai belum optimal dalam menyaring risiko bencana. Menurutnya, banyak pengajuan izin pembangunan yang belum disertai kajian risiko geologis secara menyeluruh.
“Perizinan harus jadi filter utama. Jangan asal lengkap dokumen, tapi abaikan potensi bahaya. Lokasi rawan longsor dan banjir tidak boleh lagi diabaikan,” tegasnya.
Selain itu, Markaca menyoroti minimnya perencanaan inklusif dalam banyak proyek perumahan, seperti tidak adanya ruang terbuka hijau, sistem drainase memadai, dan lahan pemakaman.
“Sering kali baru cari makam saat ada yang meninggal. Padahal itu bisa direncanakan sejak awal,” ujarnya.
Komisi I DPRD Samarinda, lanjutnya, akan mendorong kolaborasi yang lebih erat antara DPRD dan dinas teknis terkait, untuk memastikan proses pembangunan berjalan sesuai aturan dan memperhatikan keselamatan.
Ia juga menegaskan bahwa pengawasan tidak cukup dilakukan di balik meja, tapi perlu pengawasan aktif di lapangan.
“Pengembang dan pemerintah punya tanggung jawab moral. Jangan abaikan keselamatan hanya demi mengejar kecepatan proyek,” ujarnya.
Markaca juga mengajak masyarakat agar lebih peduli dan kritis dalam memilih lokasi tempat tinggal. Ia menilai, pemahaman publik tentang risiko geologis dan tata ruang perlu ditingkatkan.
“Pembangunan yang aman dan berkelanjutan butuh kesadaran bersama. Jangan sampai bencana jadi harga yang harus dibayar karena abai sejak awal,” pungkasnya.
(Gil/ADV DPRD Samarinda)









