Lintasjejaring.com, Samarinda – Rencana relokasi pedagang Pasar Subuh oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda kembali menuai sorotan. Isu pembangunan kawasan Pecinan atau Chinatown di bekas lokasi pasar pun turut mencuat di tengah masyarakat.
Anggota Komisi I DPRD Samarinda, Adnan Faridhan, menyampaikan kekhawatirannya terkait relokasi yang dilakukan tanpa landasan hukum yang jelas dan minim dialog dengan para pedagang. Ia menilai langkah tersebut menimbulkan kecurigaan.
“Relokasi ini terkesan tergesa-gesa. Muncul dugaan, apakah karena rencana pembangunan Chinatown? Kalau iya, patut dipertanyakan apa kepentingan di balik tindakan represif ini,” kata Adnan, Sabtu (17/5/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia meminta Pemkot menerapkan pendekatan yang lebih humanis dan dialogis, terutama dalam kebijakan yang menyangkut masyarakat kecil. Adnan juga menegaskan pentingnya melibatkan DPRD sebagai representasi rakyat dalam pengambilan keputusan.
“Jangan ada kesan tangan besi. Kami siap bantu sosialisasi kebijakan yang benar, tapi jangan main eksekusi tanpa diskusi,” ujarnya.
Lebih jauh, Adnan menyoroti dampak sosial dan ekonomi dari relokasi tersebut. Ia mencontohkan pengalaman pedagang Pasar Pagi yang mengalami penurunan omzet hingga 70–90 persen setelah direlokasi.
“Jangan sampai pedagang hanya dipindahkan tapi kehilangan penghasilan. Ada yang sampai jualan pentol bakso karena dagangan utama tidak laku. Kalau tidak ditangani dengan baik, mereka bisa terdesak dan berujung ke tindakan kriminal,” tandasnya.
Adnan berharap Pemkot segera membuka ruang dialog dengan para pedagang dan melibatkan semua pihak terkait agar kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat.
(Gil/ADV DPRD Samarinda)









