Lintasjejaring.com, SAMARINDA – Keberadaan pelican cross di sejumlah titik Kota Samarinda mulai menunjukkan dampak positif dalam meningkatkan keselamatan pejalan kaki. Namun, tingkat kepatuhan pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua, masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda terus mendorong pemanfaatan fasilitas penyeberangan berbasis lampu lalu lintas tersebut, salah satunya di kawasan depan Teras Samarinda.
Pelican cross sendiri merupakan sistem penyeberangan yang dilengkapi tombol untuk menghentikan arus kendaraan sementara. Saat diaktifkan, lampu lalu lintas akan berubah menjadi merah, memberikan prioritas bagi pejalan kaki untuk menyeberang dengan aman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dishub Samarinda, Hotmarulitua (HMT) Manalu, menyebutkan bahwa di beberapa lokasi, kesadaran pengendara mulai terlihat.
“Di beberapa titik sudah ada pengendara yang berhenti saat lampu penyeberangan aktif. Artinya kesadaran itu mulai terbentuk,” ujarnya.
Meski demikian, pelanggaran masih kerap ditemukan di lapangan. Dishub mencatat, pengendara roda dua menjadi kelompok yang paling sering mengabaikan rambu dan sinyal penyeberangan.
“Yang paling banyak melanggar itu roda dua. Ini jadi perhatian serius karena keselamatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga pengguna jalan,” tegasnya.
Menurut Manalu, keberadaan pelican cross tidak akan efektif tanpa didukung disiplin masyarakat. Infrastruktur yang memadai tidak cukup jika tidak diiringi kepatuhan terhadap aturan lalu lintas.
Selain faktor perilaku pengguna jalan, Dishub juga menghadapi kendala teknis. Beberapa perangkat pelican cross dilaporkan mengalami kerusakan, salah satunya di kawasan Taman Samarinda.
“Kerusakan itu karena sering disalahgunakan. Tombol ditekan terus-menerus tanpa kebutuhan, sehingga alat cepat rusak,” ungkapnya.
Sebagai langkah perbaikan, Dishub berencana meningkatkan kualitas fasilitas penyeberangan, termasuk membuat akses yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
Rencana tersebut meliputi penyesuaian median jalan, serta pembangunan jalur landai atau ramp di trotoar, agar memudahkan pengguna dengan kebutuhan khusus.
Dengan upaya tersebut, pemerintah berharap sistem lalu lintas di Kota Samarinda dapat semakin aman, tertib, dan inklusif.
“Fasilitas sudah kita siapkan, tapi kunci utamanya tetap pada kesadaran masyarakat,” pungkasnya.
(Kinka)









