Unjuk Rasa di Pati Berujung Tragedi : Dua Anak Dan Seorang Wartawan Tewas Akibat Gas Air Mata

- Redaksi

Rabu, 13 Agustus 2025 - 18:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Istimewa

Foto : Istimewa

Lintasjejaring.com, Pati, Jawa Tengah – Aksi unjuk rasa, dari ribuan warga didepan Kantor Bupati Pati, pada Rabu (13/8/2025), berakhir tragis. Dua anak dan seorang wartawan, bernama Lilik Yuliantoro, dari media Tuturpedia.com, dilaporkan meninggal dunia, setelah bentrokan antara, aparat keamanan dan massa yang tak terhindarkan.

Informasi yang dihimpun Warta Kota (Tribun Network) menyebutkan, bahwa para korban tewas akibat sesak napas, setelah terpapar gas air mata. Lilik Yuliantoro, yang saat itu tengah melakukan liputan, tentang jalannya demonstrasi, sempat mendapatkan pertolongan pertama, dengan mengoleskan pasta gigi ke seluruh wajahnya, agar dapat meredakan efek gas air mata, akan tetapi nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Dentuman Gas Air Mata dan Tangisan Anak-Anak

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suasana di sekitar alun – alun Pati, berubah menjadi mencekam ketika dentuman tembakan gas air mata, terdengar bertubi – tubi dari arah kantor Bupati. Setidaknya, ada tiga kali tembakan yang dilakukan, disusul oleh tembakan keempat yang dilepaskan tanpa henti, hingga menyelimuti area sekitar, termasuk pemukiman warga.

Baca Juga:  PSGA UINSI Samarinda Tanamkan Nilai Adab Untuk Relasi Sehat Remaja

Asal pekat membuat banyak anak – anak menangis histeris, karena panas dan perih di mata. Massa yang awalnya bertahan, sejak pukul 08.00 WIB, akhirnya dipukul mundur, sekitar pukul 13.00 WIB. Mereka berhamburan, ke gang – hang perkampungan, agar dapat menghindari paparan gas.

Aparat mengklaim, bahwa tindakan tersebut, terpaksa mereka lakukan dikarenakan, massa demonstran bertindak anarkis, dengan melempari gedung dengan batu, merusak kaca jendela, dan mencoba merusak gerbang kantor bupati. Meskipun sebelumnya, telah diperingatkan dengan water Cannon dan gas air mata, sebagian massa tetap memaksa maju.

Baca Juga:  Workshop Pendidikan, Langkah Strategis Ketua Komisi X DPR-RI Dalam Mendorong Pendidikan Yang Inklusif

Kami Hanya Ingin Menyampaikan Aspirasi

Herdiansyah Yuda, salah satu peserta aksi, mengaku kecewa karena, demonstrasi yang seharusnya berjalan dengan damai, berubah menjadi ricuh.

“Banyak anak-anak jadi korban efek gas air mata. Setelah Zuhur, massa lari ke gang-gang, tidak kuat dengan perih dan panasnya,” ujarnya.

Sementara itu, Adi S, Warga lain yang turut terkena dampak, menyebutkan bahwa pengunaan gas air mata terhadap warga, yang hanya ingin menyampaikan aspirasi, sebagai tindakan yang berlebihan.

“Tuntutan kami jelas, Bupati harus mundur,” tegasnya.

Kapolsek Kota Dikeroyok Massa

Ditengah kericuhan, seorang Kapolsek Kota Pati, Iptu Heru Purnomo, menjadi sasaran amukan massa. Rekaman yang beredar menunjukkan Heru, diarak dan dipukul sejumlah pria berpakaian hitam. Meskipun, ada yang mencoba melerai, Heru tetap dihajar massa, hingga mengalami luka di kepala. Saat ini ia sedang dirawat, di RSUD RAA Soewondo Pati, belasan anggota kepolisian lainnya, juga dilaporkan mengalami luka – luka.

Baca Juga:  DPMD Kukar Mulai Sosialisasikan Tata Cara Usulan Pembentukan Desa Baru di Marang Kayu

Akar Masalah dan Tuntutan Warga

Demonstrasi besar ini, target awalnya hanya diikuti oleh 50 ribu orang, akan tetapi jumlah peserta demonstrasi membludak, hingga mencapai angka 100 ribu orang. Aksi ini dipicu, oleh kebijakan kontroversial Bupati Pati Sudewo, yang menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2), sebesar 250 persen, serta penerapan sekolah lima hari, yang ditolak oleh warga.

Walau kebijakan tersebut sudah dicabut, fokus tuntutan kini bergeser. Ribuan demonstran, menuntut agar Bupati Sudewo, mundur dari jabatannya, dengan alasan bersikap arogan, dan tidak berpihak pada rakyat.

 

(Sean)

Follow WhatsApp Channel lintasjejaring.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bocah 12 Tahun Meregang Nyawa Di Lubang Tambang, JATAM Desak KSU PUMMA Bertanggung Jawab
Rocky Gerung Resmi Jadi Wantimpres Prabowo, Tegaskan  Tetap ‘Radical Break’
Kursi 2 RI Di Gugat, Administrasi Gibran Jadi Persoalan Di Meja MK
Usai Di Telpon Prabowo, Nahkoda Menkeu Di Gantikan Suahasil Nazara
Teguh Santosa: BRICS New Delhi Uji Arah Baru Politik Luar Negeri Indonesia
Ratusan Rumah Rusak Akibat Gempa Sigi, PMII Serukan Gerakan Solidaritas Kemanusiaan
Tak Ada Ruang Salah, Borneo FC Fokus Amankan Tiga Poin
Istikmal 30 Hari, Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh Pada 21 Maret 2026

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:34 WITA

Bocah 12 Tahun Meregang Nyawa Di Lubang Tambang, JATAM Desak KSU PUMMA Bertanggung Jawab

Jumat, 2 Oktober 2026 - 20:00 WITA

Rocky Gerung Resmi Jadi Wantimpres Prabowo, Tegaskan  Tetap ‘Radical Break’

Rabu, 23 September 2026 - 17:13 WITA

Kursi 2 RI Di Gugat, Administrasi Gibran Jadi Persoalan Di Meja MK

Senin, 14 September 2026 - 15:06 WITA

Usai Di Telpon Prabowo, Nahkoda Menkeu Di Gantikan Suahasil Nazara

Senin, 14 September 2026 - 13:49 WITA

Teguh Santosa: BRICS New Delhi Uji Arah Baru Politik Luar Negeri Indonesia

Berita Terbaru