Lintasjejaring.com, Samarinda – Kabut asap Samarinda masih menyelimuti sejumlah wilayah Kota Samarinda, Kalimantan Timur, di tengah kondisi kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat. BMKG memprakirakan cuaca di Samarinda masih didominasi awan hingga Kamis (8/10/2026), sehingga kondisi udara belum dipastikan segera membaik. Senin (05/10/2026).
Penurunan kualitas udara Samarinda terpantau sejak Sabtu (3/10/2026) pukul 18.00 WITA. Hingga Minggu (4/10/2026) siang, kondisi tersebut masih bertahan.
Prakirawan BMKG Samarinda, Muhammad Abil Nurjani, mengatakan cuaca berawan tebal masih mendominasi wilayah kota. Kondisi tersebut juga bersamaan dengan munculnya kabut asap di sejumlah kawasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Untuk kondisi cuaca Kota Samarinda hari ini didominasi berawan tebal, kemudian masih ada kabut asap yang menyelimuti wilayah kota,” ujar Abil.
Kualitas Udara Samarinda Masih Tidak Sehat
Menurut Abil, keberadaan kabut asap bukan hanya berdampak pada kondisi visual. Penurunan kualitas udara Samarinda menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian masyarakat.
“Terkait kualitas udara sendiri secara data sejak hari Sabtu (03/10/2026) pukul 18.00 WITA sore itu sudah menunjukkan kualitas udara kategori tidak sehat,” katanya.
Kondisi tersebut belum menunjukkan perbaikan signifikan berdasarkan pemantauan BMKG. Bahkan, kualitas udara masih memburuk hingga Minggu sore.
“Udaranya memburuk sampai hari Minggu 4 Oktober 2026 pukul 15.00 WITA,” jelasnya.
Situasi ini membuat masyarakat perlu lebih waspada, terutama ketika kabut asap kembali terlihat pekat di sejumlah kawasan.
BMKG Prediksi Samarinda Berawan hingga 8 Oktober
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap bertahannya kabut asap di Samarinda. Berdasarkan prakiraan BMKG, cuaca masih cenderung berawan hingga 8 Oktober 2026.
“Tren cuaca sampai tanggal 8 Oktober itu untuk prakiraan cuaca masih berawan,” ungkap Abil.
Karena itu, kabut asap masih berpotensi bertahan selama belum terjadi hujan yang cukup untuk membantu menurunkan konsentrasi partikel di udara.
“Jadi kemungkinan efek asap ini masih berlangsung,” ujarnya.
Meski begitu, hujan dapat membantu memperbaiki kualitas udara. Air hujan berpotensi membawa partikel yang berada di atmosfer turun ke permukaan sehingga konsentrasi asap dan polutan dapat berkurang.
“Nah, nanti misalnya ada hujan, itu kualitas udara mungkin bisa lebih membaik,” kata Abil.
Kebakaran Lahan di Sambutan dan Palaran
Selain kondisi cuaca, kebakaran lahan disebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya asap di Samarinda.
BMKG menyebut kawasan Sambutan dan Palaran menjadi beberapa lokasi yang berkaitan dengan sumber asap yang terpantau.
“Penyebab asap tebal di awan salah satunya penyebabnya kebakaran di Sambutan kemarin ya maupun di daerah Palaran,” pungkas Abil.
Di tengah kondisi kualitas udara Samarinda yang masih tidak sehat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker juga dianjurkan bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah.
Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, dan masyarakat yang sensitif terhadap polusi udara, perlu mendapat perhatian lebih selama kondisi kabut asap masih berlangsung.
Dengan prakiraan cuaca Samarinda yang masih berawan hingga 8 Oktober, masyarakat diimbau terus memantau perkembangan kualitas udara dan kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Penulis : Sull
Editor : Redaksi










