Lintasjejaring.com, Penajam – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut RT 16, Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), belum sepenuhnya berakhir. Memasuki hari ketujuh, tim gabungan masih harus menyisir titik-titik asap yang berpotensi berubah menjadi api kembali. Sabtu (03/10/2026).
Kondisi tersebut membuat penanganan tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat. Petugas juga melakukan pendinginan untuk memastikan bara di dalam maupun sekitar lahan gambut benar-benar tidak kembali menyala.
Kepala Pelaksana BPBD PPU Nurlaila mengatakan, hasil pemantauan udara menggunakan drone masih menemukan sejumlah titik asap di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Penanganan masih dilakukan karena hasil pemantauan udara menunjukkan sejumlah titik asap gambut yang berpotensi kembali menjadi titik api,” ujar Nurlaila.
Menurut dia, keberadaan titik asap menjadi perhatian karena kawasan gambut memiliki karakter berbeda dibandingkan lahan biasa. Api maupun bara dapat bertahan dan kembali muncul sehingga petugas harus memastikan lokasi yang terpantau benar-benar aman.
Selang Harus Ditarik Puluhan Sambungan
Tantangan terbesar di lapangan salah satunya adalah jarak antara titik kebakaran dengan sumber air. Lokasi yang terbakar cukup jauh dari sumber air sehingga petugas harus menggunakan rangkaian selang dalam jumlah panjang untuk menjangkau titik asap.
Setidaknya 25 hingga 30 sambungan selang harus ditarik menuju lokasi yang terbakar. Sementara lima sampai enam sambungan lainnya digunakan untuk mengisi flexible tank.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.
Pada penanganan hari ketujuh, tim gabungan mengoperasikan tujuh mata semprot. Empat mata semprot berasal dari BPBD, satu dari Dinas Pertanian, dan dua lainnya dari Manggala Agni. Luas kawasan yang terdampak kebakaran tercatat mencapai 36,88 hektare.
Sebanyak 75 personel turut dikerahkan untuk menangani karhutla tersebut. Mereka terdiri atas 30 personel BPBD, 15 petugas Dinas Pertanian, lima personel Manggala Agni, 12 anggota Satpol PP, serta 13 personel Polres PPU.
“Pemadaman dan pendinginan seluruhnya menggunakan mesin portable dan slip on dengan memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di lokasi,” kata Nurlaila.
Saluran Air Mengering
Persoalan sumber air semakin menjadi tantangan karena saluran sekunder di sekitar lokasi kebakaran telah mengering. Akibatnya, petugas harus mengandalkan saluran primer untuk memenuhi kebutuhan air selama proses pemadaman.
Situasi ini membuat strategi pemadaman harus disesuaikan dengan kondisi sumber air yang masih tersedia.
Selain dukungan dari unsur pemerintah dan aparat, penanganan juga mendapat bantuan dari pihak perusahaan. PT KMS menyiagakan mesin portable berkapasitas besar di kawasan perbatasan lokasi kebakaran.
“Selain itu, PT KMS turut mendukung penanganan dengan menyiagakan mesin portable berkapasitas besar di kawasan perbatasan lokasi kebakaran,” ujar Nurlaila.
Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan bersama untuk memastikan titik-titik yang masih mengeluarkan asap dapat dijangkau dan didinginkan.
Karhutla PPU Capai 503,47 Hektare
Karhutla di Petung menjadi bagian dari rangkaian kebakaran yang terjadi di PPU sepanjang 2026. Hingga 2 Oktober, BPBD PPU mencatat sebanyak 221 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 503,47 hektare.
Dengan kondisi tersebut, penanganan di Petung tidak hanya diarahkan untuk memadamkan kobaran yang terlihat, tetapi juga mencegah munculnya titik api baru.
Terlebih, titik asap yang masih terdeteksi menunjukkan bahwa potensi kebakaran belum sepenuhnya hilang. Karena itu, proses pemadaman dan pendinginan terus dilakukan sampai petugas memastikan kawasan tersebut tidak lagi memiliki titik yang berpotensi terbakar kembali.
Penulis : Mat/PPU
Editor : Redaksi










