Lintasjejaring.com, Samarinda – Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah, meminta pengelola hotel yang membuka usaha di Kota Tepian memberikan kesempatan lebih besar kepada tenaga kerja lokal. Pertumbuhan bisnis perhotelan dinilai dapat menjadi salah satu peluang untuk mengurangi pengangguran sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat. Rabu (07/10/2026).
Helmi menyampaikan hal tersebut setelah menghadiri pelantikan pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Samarinda periode 2026–2031 di Hotel Five Premier.
Menurutnya, bertambahnya jumlah hotel akan menciptakan kebutuhan tenaga kerja untuk berbagai bidang operasional, mulai dari pelayanan tamu hingga pengelolaan fasilitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau ada penambahan hotel baru, tentu akan menambah tenaga kerja. Anggap saja satu hotel bisa merekrut 10 sampai 20 orang,” ujar Helmi.
Ia berharap peluang tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh pencari kerja dari luar daerah. Masyarakat Samarinda, khususnya kalangan muda, perlu memperoleh ruang untuk ikut berkembang seiring bertambahnya investasi di sektor akomodasi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran terbuka di Samarinda mencapai 22.710 orang sepanjang 2025, dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,31 persen.
Angka tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya memperluas kesempatan kerja melalui berbagai sektor usaha, termasuk perhotelan dan restoran.
Di samping mendorong pengusaha memprioritaskan pekerja lokal, Helmi mengingatkan para pencari kerja agar mempersiapkan diri dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri.
Menurutnya, tenaga kerja Samarinda perlu memiliki kompetensi dan daya saing agar mampu menempati beragam posisi, tidak hanya pekerjaan operasional tingkat awal.
“Yang mencari kerja juga harus mempersiapkan sumber daya manusianya. Jangan hanya menjadi buruh atau staf biasa, tetapi juga harus bisa menempati posisi-posisi strategis,” jelasnya.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia dinilai penting agar masyarakat lokal dapat memperoleh manfaat lebih besar dari perkembangan industri perhotelan. Pelatihan keterampilan, pengalaman kerja, dan penguasaan bidang pelayanan menjadi bagian dari persiapan yang dapat dilakukan pencari kerja.
Helmi berharap hubungan antara dunia usaha dan masyarakat dapat berjalan beriringan. Pengusaha memperoleh tenaga kerja yang kompeten, sementara warga setempat memiliki kesempatan membangun karier.
“Harapan kita, dengan adanya hotel-hotel baru, anak-anak muda atau warga Samarinda tetap diprioritaskan untuk bekerja di hotel tersebut,” katanya.
Di tengah harapan terhadap pembukaan lapangan kerja, industri perhotelan Samarinda juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan tingkat hunian kamar.
Data BPS yang dirilis pada 1 Oktober 2026 mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Samarinda sebesar 52,71 persen pada Agustus 2026. Angka itu turun dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 56,96 persen.
Sementara itu, kontribusi sektor hotel dan restoran terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Samarinda mencapai Rp209,8 miliar sepanjang 2025. Hingga September 2026, realisasinya tercatat Rp166,9 miliar.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, sebelumnya menyebut efisiensi anggaran turut memengaruhi aktivitas perhotelan, terutama karena berkurangnya perjalanan dinas dan kegiatan pemerintahan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha perhotelan perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlangsungan bisnis dan meningkatkan daya saing destinasi daerah.
Helmi berharap pengembangan industri hotel di Samarinda tidak hanya berorientasi pada penambahan fasilitas dan investasi, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
(Abi/ADV/DPRD Samarinda)










