LintasJejaring.com, SIGI — Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Dakwah Komisariat Kota Samarinda, menyampaikan keprihatinan atas bencana gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7, yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (16/06/2026).
Berdasarkan data Kaji Cepat Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (TRC BPBD) Kabupaten Sigi per pukul 20.29 WITA, gempa tersebut menyebabkan satu warga meninggal dunia, puluhan warga mengalami luka-luka, serta ratusan rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan.
Dari data sementara, sebanyak 466 rumah warga terdampak, terdiri dari 390 unit rusak ringan, 64 unit rusak sedang, dan 12 unit rusak berat. Kerusakan terbesar tercatat berada di Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki dengan 336 rumah terdampak, serta Desa Tongoa, Kecamatan Palolo dengan 44 rumah rusak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain rumah warga, gempa juga berdampak terhadap sejumlah fasilitas publik dan tempat ibadah, yakni tiga masjid, 11 gereja, dua kantor, serta satu unit UMKM.
Koordinator Advokasi PMII Rayon Dakwah Komisariat Kota Samarinda, Hilal, mengatakan musibah yang dialami masyarakat Sigi menjadi panggilan kemanusiaan, bagi seluruh elemen masyarakat untuk bergerak membantu.
“Duka masyarakat Sigi adalah duka kita bersama. Sebagai mahasiswa yang bergerak di jalan dakwah dan kemanusiaan, kita tidak boleh tinggal diam melihat saudara-saudara kita tertimpa musibah,” ujarnya.
Menurutnya, kerusakan rumah ibadah dan banyaknya warga yang kehilangan tempat tinggal membutuhkan perhatian serius, bukan hanya dalam pemulihan infrastruktur, tetapi juga pemulihan kondisi psikologis masyarakat terdampak.
“Rusaknya rumah ibadah, baik masjid maupun gereja, menunjukkan perlunya kehadiran kita untuk membantu pemulihan fisik maupun mental warga di sana,” katanya.
PMII Rayon Dakwah juga mengajak kader dan masyarakat luas, untuk memperkuat solidaritas dengan menggalang bantuan, serta membuka posko kemanusiaan bagi korban gempa.
Selain itu, mereka mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait mempercepat distribusi bantuan logistik, penyediaan tempat pengungsian sementara, serta pengerahan tenaga medis ke wilayah terdampak, khususnya Kecamatan Nokilalaki dan Palolo.
Hilal menambahkan, proses pendataan korban dan kerusakan yang masih berlangsung perlu diikuti, dengan respons cepat agar kebutuhan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah kecepatan dan ketepatan penanganan agar masyarakat terdampak bisa mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan,” tutupnya.
(Kinka)









