Lintasjejaring.com, Samarinda – Status sebagai bagian dari Kota Samarinda belum menjamin seluruh warga Loa Kumbar menikmati akses pelayanan publik yang setara. Di kawasan yang berada di Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, itu, persoalan jalan, fasilitas sekolah, kesejahteraan guru hingga distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menjadi pekerjaan rumah. Jumat (16/10/2026).
Kondisi tersebut menjadi perhatian Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti. Menurutnya, keberadaan sekolah dasar di Loa Kumbar memang telah mendekatkan pendidikan kepada anak-anak setempat. Namun, keberadaan bangunan sekolah belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pendidikan jika tidak didukung infrastruktur dan pelayanan yang memadai.
“Loa Kumbar ini wilayah Kota Samarinda, tetapi kondisinya terpencil dan terisolir. Memang sudah ada SD, tetapi masih banyak hal yang perlu menjadi perhatian,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu persoalan mendasar yang dihadapi, ialah akses jalan dari Loa Buah menuju Loa Kumbar. Sebagian ruas jalan telah dicor, sedangkan bagian lainnya masih berupa jalan tanah dengan medan terjal dan berbatasan dengan jurang.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi mobilitas masyarakat, termasuk tenaga pendidik yang harus menempuh perjalanan menuju sekolah. Perbaikan akses dinilai penting agar aktivitas pendidikan tidak terus terbebani persoalan geografis.
“Jalan dari Loa Buah menuju Loa Kumbar sebagian sudah dicor, tetapi sebagian lainnya masih berupa jalan tanah yang terjal dan berbatasan dengan jurang,” kata Sri Puji.
Di lingkungan sekolah, keterbatasan fasilitas juga masih menjadi perhatian. Sekolah dasar di Loa Kumbar belum memiliki Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan perpustakaan. Padahal, fasilitas tersebut dibutuhkan untuk mendukung kesehatan siswa sekaligus menunjang proses belajar mengajar.
“Sekolah ini memiliki sekitar 50 murid yang didukung delapan guru dan seorang penjaga sekolah. Dari delapan guru tersebut, empat berstatus PPPK, sementara empat lainnya masih berstatus honorer,” paparnya.
Kebutuhan pendidikan masyarakat juga tidak berhenti pada jenjang sekolah dasar. Sejumlah anak di Loa Kumbar telah memasuki usia sekolah menengah pertama (SMP), sehingga muncul harapan agar akses pendidikan lanjutan bisa tersedia lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
“Selain persoalan infrastruktur, status sekolah yang masih menjadi filial atau cabang dari SD Negeri 005 Sungai Kunjang juga berdampak pada administrasi guru, terutama dalam proses pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG),” tambahnya.
Sri Puji menjelaskan, pemenuhan persyaratan jumlah siswa dalam rombongan belajar dapat memengaruhi pembayaran tunjangan. Situasi tersebut menjadi dilema ketika guru telah memenuhi beban mengajar, tetapi masih menghadapi kendala administratif.
“Kalau sekolah induk kekurangan murid, siswa dari Loa Kumbar ikut masuk dalam pendataan sekolah induk. Dampaknya, guru di sekolah filial bisa menghadapi persoalan penerbitan TPG meskipun sudah memenuhi jam mengajar,” jelasnya.
Menurut Sri Puji, persoalan tersebut membutuhkan koordinasi dengan instansi terkait agar kondisi khusus sekolah di wilayah terpencil dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyelesaian administrasi guru.
Persoalan lain yang tak kalah penting, ialah belum tersalurkannya program Makan Bergizi Gratis kepada siswa di Loa Kumbar. Sekitar 50 anak telah didaftarkan sebagai penerima manfaat, tetapi layanan tersebut belum menjangkau mereka seperti siswa di sekolah induk.
“Persoalan ini sudah disampaikan kepada pengelola, tetapi saat kami membahasnya belum ada tindak lanjut yang diterima,” ungkapnya.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa pemerataan program pemerintah tidak cukup hanya melalui pendataan penerima. Mekanisme distribusi juga perlu memperhitungkan kondisi wilayah agar siswa yang tinggal jauh dari pusat pelayanan tetap memperoleh manfaat.
“Persoalan di Loa Kumbar ini saling berkaitan, mulai dari akses jalan, fasilitas sekolah, hak-hak guru hingga penyaluran program MBG. Kami berharap seluruh persoalan tersebut bisa ditangani secara menyeluruh agar anak-anak di Loa Kumbar mendapatkan pelayanan pendidikan yang layak seperti siswa di wilayah lainnya,” harapnya.
(Abi/ADV/DPRD Samarinda)










