Lintasjejaring.com, Penajam – Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Penajam Paser Utara (PPU) harus menghadapi risiko tinggi saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Rabu, (23/09/2026)
Mereka tidak hanya berhadapan dengan kobaran api. Panas, asap dan debu juga terus mengiringi proses pemadaman. Dalam beberapa penanganan, personel BPBD PPU harus bertahan di lokasi selama berjam-jam. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah mulai menyiapkan pemeriksaan kesehatan khusus bagi petugas lapangan.
Kepala Pelaksana BPBD PPU Nurlaila mengatakan pihaknya belum menjalankan pemeriksaan tersebut. Namun, BPBD sudah berkoordinasi dengan RSUD Ratu Aji Putri Botung (RAPB) dan Dinas Kesehatan PPU.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Untuk pemeriksaan belum kami lakukan, meskipun RSUD dan Dinas Kesehatan sudah membuka ruang,” kata Nurlaila, Selasa (22/09/2026).
Nurlaila menggambarkan kondisi petugas saat berada di sekitar titik kebakaran. Mereka harus bekerja di tengah suhu tinggi sambil menghadapi asap dan debu. Situasi itu membuat tubuh petugas menerima paparan dari berbagai material selama proses pemadaman.
“Panas, asap, api, debu, itu empat material yang semua masuk ke kita, kita hirup,” ujarnya.
BPBD PPU pun berupaya menjaga stamina personel selama bertugas. Petugas membawa persediaan air minum dan mendapat minuman tambahan ketika operasi berlangsung dalam waktu lama.
Langkah tersebut penting karena petugas harus menguras tenaga saat mengejar titik api di medan yang tidak selalu mudah dijangkau.
Masker Jadi Tantangan di Lapangan
Perlindungan pernapasan juga menjadi perhatian BPBD PPU. Petugas membutuhkan masker standar untuk mengurangi paparan asap dan debu. Namun, penggunaan masker dalam waktu lama tidak selalu mudah bagi seluruh personel.
“Masker saja harus menggunakan masker yang standar, tapi kan tidak semua juga teman-teman yang mampu menggunakan,” kata Nurlaila.
Kondisi lapangan membuat petugas harus menyesuaikan perlengkapan dengan kemampuan bergerak dan kondisi medan.
Karena itu, BPBD tidak hanya fokus pada pemadaman api. Kondisi fisik personel juga perlu mendapat perhatian setelah mereka menyelesaikan tugas.
Keluhan Lebih Banyak Kelelahan dan Cedera Ringan
Sejauh ini, BPBD PPU belum menemukan kasus luka bakar serius pada personel selama penanganan karhutla.
Namun, pekerjaan di lapangan tetap menimbulkan keluhan fisik. Beberapa petugas mengalami kelelahan, sakit pinggang hingga luka ringan pada lutut.
“Memang kalau sakit pinggang, kelelahan, lutut mungkin lecet-lecet ada saja seperti itu,” tuturnya.
Nurlaila juga merasakan langsung risiko tersebut ketika turun ke lokasi kebakaran. Ia mengaku pakaian yang dikenakannya sempat terbakar karena terlalu dekat dengan api.
“Paling pakaiannya saja yang terbakar. Kayak saya, jilbab saya terbakar semua, bolong-bolong,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa risiko tidak hanya muncul ketika api membesar. Posisi petugas yang harus mendekati sumber api juga dapat membahayakan keselamatan mereka.
Pemeriksaan Kesehatan Segera Dijadwalkan
Melihat tingginya risiko di lapangan, BPBD PPU akan menjadwalkan pemeriksaan kesehatan bagi personel yang menangani karhutla.
BPBD akan menggandeng RSUD RAPB dan Dinas Kesehatan PPU dalam pemeriksaan tersebut. Pemerintah daerah ingin mengetahui kondisi kesehatan petugas setelah mereka bekerja di tengah panas, asap dan debu.
Pemeriksaan juga menjadi langkah untuk memastikan petugas tetap dalam kondisi baik setelah menjalankan operasi pemadaman.
“Akan dilakukan, iya. Kami akan jadwalkan pemeriksaan kesehatan dan meminta RSUD atau Dinkes untuk memfasilitasi,” pungkas Nurlaila dengan tegas.
Penulis : Sull
Editor : Redaksi









