Lintasjejaring.com, Penajam – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mulai memetakan prioritas pembenahan untuk menghadapi penilaian Adipura 2026. Sabtu (17/10/2026).
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Buluminung menjadi salah satu fokus utama karena memiliki bobot penilaian tertinggi dalam aspek fisik.
Sekretaris DLH Kabupaten PPU, Syamsiah, mengatakan penilaian Adipura 2026 mencakup dua komponen utama, yakni tata kelola dan kondisi fisik lingkungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Masing-masing komponen memiliki bobot 50 persen sehingga keduanya perlu dipersiapkan secara seimbang,” ujarnya.
Menurutnya, upaya meraih penghargaan tersebut tidak cukup hanya dengan menjaga kebersihan di sejumlah lokasi. Pemerintah daerah juga perlu memperkuat kebijakan pengelolaan sampah, dukungan anggaran, kelembagaan, sumber daya manusia (SDM), serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung.
“Dalam penilaian Adipura, aspek tata kelola dan fisik sama-sama memiliki bobot 50 persen. Karena itu, persiapannya harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kebijakan dan anggaran hingga kondisi pengelolaan sampah di lapangan,” kata Syamsiah.
Pada komponen tata kelola, terdapat sejumlah indikator yang menjadi perhatian, termasuk alokasi anggaran APBD dengan bobot 8 poin, kebijakan pengelolaan sampah 6 poin, serta kelembagaan 6 poin.
Sementara itu, aspek SDM dan sarana prasarana memiliki bobot gabungan 30 poin, dengan rasio fasilitas penanganan sampah mencapai 28,50 poin.
TPA Buluminung Memiliki Bobot Penilaian Tertinggi
Selain tata kelola, kondisi lingkungan di berbagai lokasi juga menjadi bagian penting dalam penilaian. Terdapat 14 lokasi pemantauan yang menjadi perhatian, mulai dari TPA, kawasan permukiman, pasar, perkantoran, fasilitas kesehatan, hingga sekolah dan ruang publik.
Syamsiah menjelaskan, TPA Buluminung memiliki bobot penilaian sebesar 17,33 poin. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan lokasi lainnya. Kawasan permukiman menyusul dengan bobot 12 poin, sedangkan pasar memiliki bobot 8 poin.
“Bobot penilaian tertinggi pada aspek fisik berada di TPA Buluminung. Karena itu, lokasi tersebut menjadi salah satu prioritas yang harus diperhatikan dalam persiapan menuju Adipura 2026,” terangnya.
Lokasi lain yang turut menjadi perhatian meliputi pertokoan dengan bobot 3,20 poin, perkantoran 2,12 poin, fasilitas kesehatan 1,47 poin, perairan terbuka 1,22 poin, dan sekolah 1,18 poin.
Selain itu, penataan saluran terbuka, pantai wisata, jalan, taman kota, terminal, serta pelabuhan penumpang juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan.
Pembenahan Butuh Koordinasi Lintas Sektor
DLH PPU berharap pemetaan bobot tersebut dapat membantu menentukan skala prioritas pembenahan secara lebih terarah.
Koordinasi lintas sektor juga diperlukan agar pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab DLH, tetapi melibatkan seluruh perangkat daerah dan masyarakat.
Optimistis Kembali Raih Penghargaan Adipura
Syamsiah optimistis PPU memiliki peluang kembali meraih penghargaan Adipura. Ia menyebut daerah tersebut sebelumnya telah enam kali memperoleh penghargaan di bidang kebersihan dan pengelolaan lingkungan.
“Kami optimistis Kabupaten PPU mampu meraih Piala Adipura 2026. Sebelumnya, PPU sudah enam kali mendapatkan Adipura. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan pengelolaan lingkungan dan kebersihan daerah,” pungkasnya.
(Mat/ADV)










