Lintasjejaring.com, Penajam – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim), mencapai 273 kali kejadian sepanjang Januari hingga 18 Oktober 2026. Total luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 642,26 hektare. Senin (19/10/2026).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU mencatat Kecamatan Penajam menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni mencapai 402,60 hektare dan 137 kejadian.
Angka tersebut menjadikan Penajam sebagai wilayah yang paling terdampak karhutla dibandingkan tiga kecamatan lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Pelaksana BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan karhutla masih menjadi tantangan utama bagi daerah, terutama saat memasuki puncak musim kemarau.
Pada periode Agustus hingga September, intensitas kebakaran meningkat seiring kondisi cuaca yang kering dan lahan yang mudah terbakar.
“Tantangan utama saat ini adalah masih kebakaran. Banyak hotspot yang tersebar di empat kecamatan, terutama di puncak kemarau,” ucapnya.
Selain Kecamatan Penajam, karhutla juga terjadi di Kecamatan Sepaku, Babulu, dan Waru. Berdasarkan data terbaru BPBD PPU, luas lahan terbakar di Kecamatan Sepaku mencapai 116,39 hektare dengan 50 kali kejadian.
Kemudian, disusul Kecamatan Babulu yang tercatat dengan luas kebakaran yakni 88,51 hektare dengan 63 kali kejadian. Sedangkan pada Kecamatan Waru mencapai 34,76 hektare dengan 23 kali kejadian.
Sejumlah Kebakaran Terjadi dalam Beberapa Pekan Terakhir
Sejumlah kebakaran dengan luasan cukup besar juga terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Kebakaran di kawasan Riko dan Pantai Lango pada 22–24 September menghanguskan sekitar 50 hektare lahan.
Selanjutnya, kebakaran di RT 16 Kelurahan Petung berlangsung sejak 27 September hingga 9 Oktober dengan luas terdampak 37,61 hektare. Di Kecamatan Sepaku, kebakaran di Desa Suko Mulyo pada 11–12 Oktober membakar sekitar 20 hektare lahan.
Pada 16–17 Oktober 2026, BPBD mencatat beberapa titik kebakaran di sejumlah wilayah. Kebakaran di RT 25 dan RT 26 Desa Babulu Darat dengan luas total 1,5 hektare berhasil dipadamkan.
Penanganan juga dilakukan pada titik kebakaran di kawasan Tol 6B Kelurahan Pemaluan, masing-masing dengan luas 0,6 hektare dan 1,6 hektare. Sementara itu, satu titik lainnya berada di RT 12 Kelurahan Jenebora.
Cuaca Kering dan Pembukaan Lahan Jadi Perhatian
Nurlaila menjelaskan, kondisi cuaca kering dan praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar turut memengaruhi tingginya kejadian karhutla di PPU.
“Tim terus bergerak cepat memadamkan api di setiap titik kejadian. Tetapi, kita juga memerlukan bantuan masyarakat untuk mengawasi kebakaran hutan ini,” tuturnya.
Pihaknya mengimbau kepada masyarakat tidak membakar lahan untuk membuka maupun membersihkan area.
Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap atau api agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin.
BPBD Perkuat Pemantauan dan Patroli
Selain pemadaman, pemantauan titik panas melalui satelit dan patroli darat di wilayah rawan terus diperkuat. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas, terutama selama kondisi lahan masih kering.
Dengan total 273 kejadian dan luas lahan terbakar mencapai 642,26 hektare, upaya pencegahan membutuhkan dukungan seluruh pihak.
BPBD berharap masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
(Mat/ADV)










