Lintasjejaring.com, Penajam – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mendorong masyarakat menjadikan kebersihan dan pengelolaan sampah sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Sabtu (17/10/2026).
Upaya ini tidak hanya mendukung persiapan penilaian Adipura 2026, tetapi juga bertujuan membangun lingkungan permukiman yang bersih dan sehat secara berkelanjutan.
Sekretaris DLH Kabupaten PPU, Syamsiah, mengatakan kawasan permukiman menjadi salah satu titik penting dalam penilaian pengelolaan lingkungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aspek yang diperhatikan tidak terbatas pada kondisi fasilitas umum, tetapi juga mencakup kebiasaan warga dalam menangani sampah dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Menurutnya, pengelolaan sampah dari rumah tangga perlu dilakukan secara mandiri melalui pemilahan berdasarkan jenisnya.
“Sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pengomposan, sedangkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis bisa disalurkan melalui bank sampah,” ucap Syamsiah.
Selain itu, kondisi saluran drainase juga perlu dijaga agar tidak dipenuhi sampah yang berpotensi menghambat aliran air.
Berbagai upaya tersebut menjadi bagian dari pembenahan lingkungan permukiman yang membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.
“Di kawasan permukiman, yang diperhatikan bukan hanya fasilitas umum, tetapi juga bagaimana masyarakat mengelola sampah dari rumah, melakukan pemilahan, menjaga drainase, menyediakan pengomposan, serta menjalankan fungsi bank sampah,” jelas Syamsiah.
Gotong Royong Rutin Setiap Jumat
Ia menambahkan, partisipasi warga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program kebersihan.
Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat yang menerapkan perilaku hidup bersih secara konsisten.
Salah satu bentuk keterlibatan tersebut diwujudkan melalui kegiatan gotong royong yang rutin dilaksanakan setiap Jumat.
Menurut Syamsiah, kegiatan itu merupakan bagian dari agenda pemerintah daerah untuk menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan kepedulian masyarakat.
“Aksi gotong royong ini sudah menjadi agenda rutin dari pimpinan daerah yang dilaksanakan secara konsisten setiap hari Jumat. Jadi, tidak mesti menunggu ada momen pengumpulan atau penilaian Adipura baru kita bergerak bersih-bersih,” terangnya.
Budaya Bersih Diharapkan Berkelanjutan
Ia menegaskan, kebiasaan menjaga kebersihan perlu dipertahankan meskipun proses penilaian Adipura telah selesai.
Dengan demikian, kegiatan gotong royong tidak hanya menjadi aktivitas sesaat, melainkan budaya yang terus berjalan di tengah masyarakat.
“Tentunya kita berharap agar warga semakin aktif menjaga lingkungan masing-masing, mulai dari memilah sampah, tidak membuang sampah sembarangan, hingga membersihkan saluran air di sekitar tempat tinggal,” pesannya.
Syamsiah optimistis, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dapat mendukung peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan di PPU.
Selain menjadi bagian dari persiapan Adipura 2026, kebiasaan tersebut diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan dan kenyamanan warga.
“Kami berharap nilai-nilai kepedulian lingkungan ini terus melekat dan menjadi bagian dari pola hidup sehari-hari masyarakat PPU,” pungkasnya.
(Mat/ADV)










