Lintasjejaring.com, Penajam – Kekeringan mulai menekan produksi padi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Hingga pertengahan September 2026, sebanyak 66 hektare tanaman padi gagal panen akibat kekurangan air. Senin (28/9/2026).
Dinas Pertanian PPU mencatat, lahan yang terdampak tersebar di Kecamatan Babulu, Waru dan Penajam. Sementara itu, petani di Kecamatan Sepaku masih mampu menyelamatkan tanaman mereka dari dampak kekeringan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU Gunawan mengatakan, angka tersebut berasal dari laporan kondisi pertanian sejak awal hingga pertengahan September.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Perkembangan yang terkini, berkaitan dengan laporan di bulan September, dari awal sampai dengan pertengahan memang ada 66 hektare,” ungkap Gunawan.
242,5 Hektare Sawah Terdampak Cekaman Air
Gunawan menjelaskan, luas lahan yang mengalami cekaman air sebenarnya jauh lebih besar. Dinas Pertanian PPU mencatat sekitar 242,5 hektare lahan mengalami kekurangan air.
Namun, kondisi tersebut tidak otomatis membuat seluruh tanaman gagal panen. Sebagian petani masih mampu mempertahankan tanaman setelah mendapatkan dukungan sumber air dan penanganan di lapangan.
“66 hektare gagal panen. Itu dari total 242,5 hektare yang mengalami cekaman air,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga masih dapat berubah karena periode tanam belum sepenuhnya berakhir. Dinas Pertanian terus memantau perkembangan lahan pertanian untuk mengetahui dampak kekeringan terhadap produksi padi.
Ancaman kekeringan sebenarnya sudah muncul sejak sekitar Mei 2026. Saat itu, lebih dari 200 hektare lahan sempat mengalami cekaman air. Namun, petani bersama pemerintah berhasil menyelamatkan seluruh lahan tersebut melalui dukungan sumber air dan penanganan yang tersedia.
Kondisi berbeda muncul pada periode tanam berikutnya. Keterbatasan sumber air permukaan membuat sebagian lahan tidak mampu bertahan hingga masa panen. Dinas Pertanian PPU pun terus mendorong pemanfaatan sarana pengairan untuk menekan risiko gagal panen.
Pompa Air Belum Menjangkau Semua Lahan
Pemerintah telah mengalokasikan sejumlah sarana pendukung, terutama pompa air serta jaringan irigasi perpipaan dan perpompaan. Fasilitas tersebut membantu petani yang memiliki akses terhadap sumber air permukaan. Namun, petani yang menggarap lahan jauh dari sumber air masih menghadapi kendala.
“Memang sudah dialokasikan. Hanya saja pada lahan-lahan yang memang tersedia air permukaannya. Kalau lahan yang tidak tersedia air permukaannya, ya akhirnya gagal panen seperti yang ada tadi,” jelas Gunawan.
Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan sumber air permukaan. Dinas Pertanian juga mendorong pembangunan sumber air alternatif melalui sumur bor.
PPU Usulkan Sumur Bor Lewat Program JIAT
Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah yakni mengusulkan pembangunan sumur bor melalui program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang berada di bawah Balai Wilayah Sungai (BWS).
Gunawan menyebut pengajuan titik sumur bor dilakukan secara bertahap. Sebanyak 13 titik sebelumnya telah masuk dalam usulan. Setelah itu, pemerintah kembali mengusulkan tambahan 10 titik.
Sementara itu, beberapa titik sudah terealisasi. Gunawan mencatat sedikitnya tujuh titik telah terbangun, meski sebagian lainnya masih berada dalam proses.
“Kalau yang sebelumnya masuk memang ada 13, kemudian di berikutnya itu ada 10, kemudian yang sudah terbangun itu ingat saya ada tujuh,” katanya.
Salah satu sumur bor yang telah rampung berada di kawasan Labangka Barat. Meski demikian, pemerintah tidak bisa membangun JIAT di setiap lahan yang mengalami kekeringan.
Titik Sumur Bor Harus Punya Potensi Air Tanah
Penentuan lokasi pembangunan sumur bor tetap mengikuti proposal yang diajukan. Selain itu, pemerintah harus memastikan lokasi tersebut memiliki potensi sumber air tanah.
Artinya, kebutuhan pengairan saja belum cukup menjadi dasar pembangunan JIAT. Tim juga perlu melihat kondisi air tanah agar infrastruktur yang dibangun benar-benar dapat mendukung aktivitas pertanian.
“Karena kalau berkaitan dengan usulan ini kan mengacu pada proposal yang ada, sekaligus memang yang memungkinkan ada air tanah yang tersedia,” pungkasnya.
(Mat/ADV)










