Lintasjejaring.com, Kutai Kartanegara – Upaya menjaga kesenian tradisional agar tetap diminati masyarakat terus dilakukan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satunya melalui pertunjukan teater Mamanda oleh Sanggar Mamanda Panji Berseri di panggung Simpang Odah Etam (SOE), Tenggarong. Minggu (11/11/2026).
Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar memanfaatkan ruang pertunjukan tersebut untuk mempertemukan pelaku seni dengan masyarakat sekaligus mendorong pengembangan kesenian tradisional melalui pendekatan yang lebih inovatif.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan pemerintah daerah mendukung pelaku seni dengan menyediakan tempat dan memfasilitasi penampilan mereka di hadapan publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jadi, Dinas Pariwisata sendiri membentuk kolaborasi dengan menyediakan tempat dan memfasilitasi mereka untuk tampil, serta bisa berinteraksi dengan pertunjukannya,” ujar Zikri.
Menurutnya Zikri, upaya mengembangkan Mamanda juga berkaitan dengan penelitian yang bertujuan mencari pendekatan agar kesenian tersebut kembali mendapat perhatian masyarakat. Pembahasan mengenai identitas dan perkembangan Mamanda, termasuk keterkaitannya dengan tradisi di Kalimantan Selatan, turut menjadi bagian dari proses tersebut.
Ia menilai, pelestarian kesenian tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk pertunjukan yang sudah ada. Pelaku seni juga perlu memikirkan cara penyajian yang dapat menjangkau penonton dari berbagai kalangan tanpa menghilangkan karakter asli kesenian tersebut.
“Ekraf itu bersifat pembaruan. Bagaimana suatu pertunjukan bisa diterima oleh masyarakat umum, masyarakat luas. Dalam hal ini, bukan hanya Kutai Kartanegara saja. Itu yang selalu saya tanamkan kepada mereka,” jelasnya.
Pendampingan terhadap Mamanda telah dilakukan Zikri sejak dirinya menjabat di Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar.
Dalam proses tersebut, ia mendorong kelompok seni untuk terus mengeksplorasi gagasan dan memperbaiki penyajian pertunjukan.
Menurutnya, perkembangan mulai terlihat dari keberanian pelaku seni melakukan improvisasi dan inovasi. Langkah tersebut diharapkan membuat Mamanda tetap relevan di tengah perubahan selera penonton.
“Alhamdulillah, sekarang mereka sudah mulai berimprovisasi dan berinovasi. Sebetulnya, kalau saya lihat secara keseluruhan mereka sudah banyak berkembang,” ungkap Kiki.
Melalui panggung SOE, Dispar Kukar berharap kesenian Mamanda dapat terus berkembang sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
“Kolaborasi antara pemerintah, pelaku seni, dan pihak yang mendukung pengembangan pertunjukan diharapkan membuka peluang agar kesenian tradisional semakin dikenal oleh masyarakat luas,” pungkasnya.
(Adv/Diskominfo Kukar)










