Lintasjejaring.com, penajam – Produksi perikanan budidaya di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus menunjukkan potensi besar. Dalam setahun, hasil budidaya ikan di Benuo Taka mencapai sekitar 12.000 ton, sementara produksi rumput laut jenis gracilaria berada di kisaran 9.000 ton. Selasa (06/10/2026).
Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), pemerintah daerah kini tidak hanya mengejar peningkatan produksi. Hilirisasi menjadi pekerjaan berikutnya agar hasil budidaya tidak berhenti dijual sebagai bahan mentah.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Lingkungan Dinas Perikanan PPU, Musakkar Mulyadi, mengatakan produksi ikan tersebut berasal dari berbagai komoditas budidaya, baik di tambak maupun kolam air tawar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Produksi kita cukup besar. Tahun 2025 lalu, dari tambak dan kolam air tawar itu sekitar 12.000 ton. Minimal kita targetkan ada kenaikan sekitar tiga persen dari produksi tahun kemarin,” ujar Musakkar.
472 Kelompok Budidaya Terus Didampingi
Untuk mencapai target tersebut, Dinas Perikanan PPU menjalankan sejumlah program yang menyasar langsung pembudidaya.
Bantuan benih, pakan hingga kolam bioflok diberikan untuk mendorong masyarakat meningkatkan produktivitas. Selain bantuan sarana produksi, pemerintah juga melakukan pendampingan kepada kelompok pembudidaya.
“Bukan hanya bantuan yang kita berikan. Kelompok-kelompok budidaya juga terus kita dampingi dan bina,” jelas Musakkar.
Saat ini terdapat 472 kelompok budidaya yang mendapat pendampingan pemerintah. Pembinaan juga diarahkan pada kemampuan masyarakat dalam mengolah hasil produksi.
“Kita juga lakukan pelatihan pengolahan ikan, supaya hasil budidayanya tidak hanya dijual begitu saja,” katanya.
Menurut Musakkar, langkah tersebut penting karena peningkatan produksi harus diikuti dengan kemampuan masyarakat mengelola hasil panen agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
IKN Buka Pasar Lebih Besar
Keberadaan IKN menjadi salah satu peluang bagi sektor perikanan budidaya PPU. Pertumbuhan kawasan diperkirakan ikut meningkatkan kebutuhan terhadap komoditas perikanan untuk konsumsi masyarakat.
“Dengan adanya IKN, peluangnya tentu semakin terbuka. Permintaan ikan air tawar maupun air payau di sini juga cukup tinggi,” ujar Musakkar.
Untuk budidaya air payau, PPU memiliki sejumlah komoditas unggulan seperti bandeng, udang dan kepiting. Rumput laut gracilaria juga menjadi salah satu komoditas yang produksinya cukup besar.
“Kalau air payau yang kita kembangkan itu bandeng, udang, kepiting, termasuk rumput laut gracilaria,” katanya.
Sementara itu, budidaya air tawar didominasi oleh komoditas yang memiliki pasar luas.
“Untuk air tawar, yang paling menonjol itu lele, nila dan patin,” tambahnya.
Potensi tersebut membuat sektor budidaya dinilai memiliki ruang untuk berkembang seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di kawasan IKN.
Rumput Laut PPU Sudah Menembus Luar Daerah
Tidak hanya ikan, hasil budidaya rumput laut gracilaria juga telah dipasarkan ke luar Kalimantan. Produksinya mencapai sekitar 9.000 ton per tahun.
Musakkar mengatakan sebagian besar hasil rumput laut tersebut dipasarkan dalam kondisi kering.
“Untuk gracilaria yang sudah kering, sebagian kita kirim ke Sulawesi dan Jawa,” ungkapnya.
Sementara ikan hasil budidaya PPU hingga kini mayoritas masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
“Kalau ikan, memang mayoritas masih dijual sebagai bahan mentah,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan industri pengolahan berbasis perikanan.
Dorong Produk Setengah Jadi
Ke depan, Dinas Perikanan PPU ingin mendorong masyarakat tidak hanya berorientasi pada produksi. Pengolahan hasil panen menjadi produk setengah jadi dinilai dapat memberikan nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru.
“Ke depan kita ingin hasil budidaya ini minimal sudah bisa diolah menjadi bahan setengah jadi,” kata Musakkar.
Menurutnya, pengolahan tersebut dapat membuat nilai jual hasil budidaya meningkat dibandingkan jika seluruhnya dijual dalam bentuk bahan mentah.
“Harapannya tentu memberikan nilai tambah dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dengan produksi ikan mencapai 12.000 ton dan rumput laut gracilaria sekitar 9.000 ton per tahun, PPU memiliki modal produksi yang cukup besar untuk mengembangkan ekonomi perikanan.
Tantangannya kini bukan hanya meningkatkan jumlah produksi, tetapi membangun rantai usaha dari budidaya, pengolahan hingga pemasaran. Jika hilirisasi dapat berjalan, pertumbuhan pasar yang ikut terdorong oleh perkembangan IKN berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi pembudidaya lokal.
(Mat/ADV)










