Lintasjejaring.com, Penajam – Rumput laut jenis Gracilaria atau yang dikenal masyarakat Penajam Paser Utara (PPU) sebagai sango-sango mulai naik kelas. Komoditas yang sebelumnya hanya dianggap sebagai hasil sampingan tambak kini berkembang menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat di Desa Babulu Laut. Jumat (02/10/2026).
Produksinya pun tidak kecil. Dinas Perikanan PPU mencatat budidaya sango-sango di wilayah tersebut mencapai sekitar 9.000 ton per tahun.
Kepala Dinas Perikanan PPU Andi Trasodiharto mengatakan perubahan itu terlihat dari semakin banyaknya tambak masyarakat yang kini dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dulu tambak kita lebih banyak dipenuhi bandeng dan udang. Sango-sango ini hanya hasil sampingan. Sekarang hampir semua tambak di Babulu Laut sudah ditanami rumput laut,” kata Andi,
Perkembangan tersebut membuat sango-sango tidak lagi sekadar komoditas pelengkap. Bagi masyarakat pembudidaya, rumput laut mulai menjadi sumber pemasukan yang dapat dipanen secara berkala.
Libatkan Lebih dari 300 Pembudidaya
Besarnya produksi rumput laut di Babulu Laut juga tidak lepas dari keterlibatan kelompok pembudidaya.
Saat ini terdapat 35 kelompok yang mengembangkan sango-sango. Setiap kelompok rata-rata beranggotakan sekitar 10 orang sehingga lebih dari 300 masyarakat terlibat dalam aktivitas budidaya tersebut.
“Kelompoknya ada 35. Kalau rata-rata satu kelompok sekitar 10 orang, berarti sudah lebih dari 300 orang yang terlibat,” ujar Andi.
Menurutnya, pola panen yang relatif cepat menjadi salah satu alasan masyarakat semakin tertarik mengembangkan rumput laut.
“Ini cukup menarik bagi masyarakat karena dalam satu bulan bisa panen dua kali. Kalau dua bulan, bisa tiga kali panen,” jelasnya.
Dengan siklus panen tersebut, aktivitas budidaya turut menggerakkan perputaran ekonomi masyarakat di kawasan pesisir Babulu Laut.
“Jadi perputaran ekonominya juga menjadi lebih cepat di masyarakat,” katanya.
Harga Masih Jadi Tantangan
Meski produksi mencapai ribuan ton per tahun, pemerintah daerah melihat masih ada ruang untuk meningkatkan nilai ekonomi sango-sango.
Saat ini sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk kering. Hasil tersebut dipasarkan ke sejumlah daerah, termasuk Sulawesi dan Surabaya.
Harga di tingkat pembudidaya berada di kisaran Rp2.900 per kilogram.
“Sekarang harganya sekitar Rp2.900 per kilo. Karena produksinya dalam jumlah tonase, hasilnya cukup besar kalau dikelola dengan baik,” ujar Andi.
Namun, pemerintah menilai nilai jual tersebut masih bisa ditingkatkan apabila kualitas penanganan setelah panen diperbaiki.
“Yang kita pikirkan sekarang bagaimana pascapanennya bisa lebih baik. Kalau kualitasnya bagus, tentu nilai jualnya juga bisa naik,” katanya.
Didorong Masuk Tahap Pengolahan
Karena itu, Dinas Perikanan PPU mulai menyiapkan langkah agar sango-sango tidak selamanya dijual sebagai bahan mentah.
Salah satu gagasan yang disiapkan adalah mengembangkan pengolahan rumput laut hingga menjadi tepung. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya memperoleh pendapatan dari kegiatan budidaya, tetapi juga dari proses pengolahan.
“Kami inginnya setelah dipanen, penanganan pascapanennya bagus, kemudian bisa diolah menjadi tepung,” ungkap Andi.
Menurutnya, produk olahan memiliki peluang memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan rumput laut yang langsung dijual dalam bentuk kering.
“Kalau sudah diolah menjadi tepung, tentu harganya bisa lebih baik dan lebih mahal,” ujarnya.
Siapkan Demplot Bersama Unmul
Untuk meningkatkan kualitas budidaya, pemerintah daerah juga berencana membuat lahan percontohan atau demplot di kawasan tambak masyarakat Babulu Laut.
Demplot tersebut akan menjadi lokasi untuk menguji pola budidaya sekaligus melihat cara meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
“Kita akan coba buat demplot di lahan masyarakat yang ada di Babulu Laut,” kata Andi.
Dalam program tersebut, Dinas Perikanan PPU berencana menggandeng Universitas Mulawarman untuk melakukan kajian.
“Nanti kita kerja sama dengan pemerintah daerah dan Universitas Mulawarman untuk melakukan kajian,” ujarnya.
Kajian itu akan mencakup penggunaan bibit, pola budidaya, pemanenan hingga penanganan pascapanen.
Bisa Dikembangkan Bersama Udang dan Bandeng
Potensi sango-sango juga dinilai masih bisa diperluas ke wilayah lain, seperti Kecamatan Waru dan Penajam.
Salah satu keunggulan komoditas ini adalah dapat dibudidayakan bersama komoditas tambak lainnya melalui pola polikultur.
“Rumput laut ini bisa ditebar bersamaan dengan udang dan bandeng,” jelas Andi.
Artinya, satu kawasan tambak tidak harus hanya menghasilkan satu komoditas. Selain bandeng dan udang, pembudidaya bisa memperoleh hasil tambahan dari rumput laut.
“Jadi rumput laut ini bisa menjadi produk yang ikut dikembangkan oleh pembudidaya kita,” pungkasnya.
Dengan produksi sekitar 9.000 ton per tahun dan melibatkan lebih dari 300 pembudidaya, sango-sango kini memiliki posisi penting dalam ekonomi masyarakat pesisir PPU.
(Mat/ADV)










