Lintasjejaring.com, Tanjung Selor – Pemerintah Kabupaten Bulungan mendorong puluhan ribu pelajar mengenal layanan keuangan sejak usia sekolah. Pemkab menjalankan upaya tersebut melalui Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) yang menyasar 26.580 siswa di seluruh wilayah Kabupaten Bulungan. Kamis (16/07/2026)
Sosialisasi program berlangsung di Gedung PKK Lantai II Tanjung Selor. Pemkab Bulungan menggandeng perbankan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan pemahaman keuangan bagi pelajar.
Program KEJAR mencakup 18.889 siswa dari 145 SD dan 7.691 siswa dari 66 SMP. Pemkab Bulungan berharap program ini tidak hanya meningkatkan kepemilikan rekening, tetapi juga membentuk kebiasaan menabung dan mengelola uang secara bijak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemkab Bulungan Dorong Budaya Menabung
Wakil Bupati Bulungan Kilat membacakan sambutan tertulis Bupati Bulungan Syarwani. Ia menekankan pentingnya membangun pemahaman keuangan sejak anak-anak.
Menurut Kilat, kemampuan mengelola uang menjadi bagian penting dalam membentuk sumber daya manusia yang mandiri. Karena itu, sekolah dan keluarga perlu mengenalkan kebiasaan menabung sekaligus mengajarkan anak membedakan kebutuhan dan keinginan.
“Anak-anak dan remaja kita perlu memahami cara menabung. Mereka juga harus mampu membedakan kebutuhan dengan keinginan,” ujar Kilat.
Ia menilai Program KEJAR dapat membantu pelajar membangun kebiasaan tersebut secara bertahap. Rekening pribadi juga memberi kesempatan kepada siswa untuk mengenal cara menyimpan dan mengelola uang secara bertanggung jawab.
“Melalui Program KEJAR, kita ingin menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kebiasaan mengelola keuangan sejak usia dini,” katanya.
Pemkab Bulungan menjalankan program tersebut melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Pemkab juga menerbitkan Surat Edaran Bupati Bulungan Nomor 500/163/EK.TU pada 8 Juli 2026 sebagai salah satu dasar pelaksanaan program.
Target Perluas Inklusi Keuangan
Program KEJAR turut mendukung upaya Pemkab Bulungan memperluas inklusi keuangan. Data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut mencatat tingkat inklusi keuangan Bulungan mencapai 80,51 persen.
Sementara itu, tingkat literasi keuangan berada pada angka 66,46 persen. Data tersebut menunjukkan adanya jarak antara akses masyarakat terhadap layanan keuangan dan pemahaman mereka dalam menggunakan layanan tersebut.
Pemkab Bulungan berupaya memperkecil jarak tersebut melalui edukasi sejak usia sekolah. Pelajar menjadi kelompok penting karena mereka dapat mengenal layanan keuangan secara bertahap dan membangun kebiasaan finansial sejak dini.
“Kami ingin akses keuangan tidak hanya tersedia di pusat kota. Pelajar di wilayah yang aksesnya masih terbatas juga harus mendapatkan kesempatan yang sama,” ujar Kilat.
Ia juga meminta lembaga perbankan menghadirkan layanan yang sederhana dan mudah dijangkau. Menurutnya, pelayanan langsung ke sekolah dapat membantu memperluas kepesertaan Program KEJAR.
“Kami berharap lembaga perbankan memberikan pelayanan yang mudah, cepat, dan ramah kepada para pelajar,” katanya.
Kilat mendorong perbankan mengambil peran lebih besar dalam pelaksanaan Program KEJAR. Kondisi geografis Bulungan membuat akses layanan keuangan belum merata di seluruh wilayah.
Karena itu, Pemkab membuka ruang bagi perbankan untuk mendatangi sekolah atau wilayah yang belum memiliki akses layanan secara mudah.
“Kalau memungkinkan, pelayanan dapat dilakukan dengan sistem jemput bola hingga ke wilayah-wilayah yang aksesnya masih terbatas,” tutur Kilat.
Pola tersebut dapat membantu pelajar membuka rekening tanpa harus menghadapi kendala jarak. Pemkab berharap langkah itu mampu memperluas jangkauan Program KEJAR hingga wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses.
OJK Edukasi Pelajar soal Kejahatan Siber
Kegiatan tersebut juga membahas keamanan transaksi digital. OJK Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus kejahatan di sektor jasa keuangan.
Kepala Divisi Perlindungan Konsumen, Edukasi, Pelayanan, dan Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PEPK) OJK Kaltimtara, Yulianta, menjelaskan perkembangan teknologi telah membuat pembukaan rekening semakin mudah. Sejumlah BPR bahkan telah menyediakan layanan pembukaan rekening secara digital.
Menurut Yulianta, perkembangan tersebut memberi kesempatan kepada masyarakat, termasuk pelajar, untuk mengenal layanan perbankan sejak usia sekolah.
“Sekarang pembukaan rekening sudah semakin mudah karena beberapa BPR sudah menyediakan layanan secara digital. Ini tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat, termasuk para pelajar,” ujar Yulianta.
Namun, Yulianta mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan aspek keamanan saat menggunakan layanan keuangan digital. Kemudahan transaksi perlu berjalan bersama pemahaman mengenai perlindungan konsumen.
“Kemudahan akses layanan keuangan digital harus diimbangi dengan pemahaman dan kewaspadaan. Masyarakat harus memastikan legalitas layanan keuangan yang digunakan dan tidak sembarangan memberikan data pribadi,” katanya.
OJK juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap tawaran investasi maupun layanan pinjaman yang belum memiliki legalitas. Masyarakat perlu memeriksa legalitas produk keuangan sebelum menggunakan layanan tersebut.
Langkah itu penting untuk mencegah kerugian akibat investasi ilegal, pinjaman online tidak berizin, serta berbagai modus penipuan digital lainnya.
Program KEJAR selanjutnya akan mengintegrasikan materi literasi keuangan dalam aktivitas pembelajaran di sekolah. Langkah tersebut diharapkan mampu membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak dini sekaligus menciptakan ekosistem layanan keuangan yang aman bagi pelajar.
Penulis : Yudistira
Editor : Red/ADV/Diskominfo Bulungan









